Sungai di Depan Mata, Dana Mengalir ke Danau Seberang: Dilema Investor Kripto Muda Indonesia

- Kamis, 22 Januari 2026 | 16:50 WIB
Sungai di Depan Mata, Dana Mengalir ke Danau Seberang: Dilema Investor Kripto Muda Indonesia

Bagi dia, ini urusan nyata. Soal menyelamatkan pemula yang silau oleh iming-iming “moon” dan lamborghini di media sosial, dari jerat informasi menyesatkan yang bertebaran di Twitter, Telegram, atau Discord. Literasi adalah tameng pertama. Sebelum mereka terjun ke medan investasi yang sama sekali tak kenal ampun.

Tapi selain misinformasi, ada momok yang lebih nyata: platform ilegal. Keberadaan mereka yang merajalela bukan cuma bikin arena perburuan jadi kacau. Negara juga dirugikan. Potensi pajak yang menguap diperkirakan mencapai Rp1,1 hingga 1,7 triliun per tahun. Coba bayangkan, angka segitu bisa buat membangun ratusan sekolah.

Di titik inilah garis pemisah harus dibuat terang benderang. Antara sungai yang terjaga dan rawa-rawa gelap. Penegakan hukum jelas sebuah keharusan. Tapi bagi Calvin, itu belum cukup.

“Perlu dibarengi literasi dan kolaborasi,” katanya.

Kolaborasi segi empat antara regulator, industri, komunitas, dan akademisi. Impian besarnya sederhana: membangun ekosistem yang tak cuma tumbuh, tapi tumbuh dengan aman dan berkelanjutan. Tempat di mana investor tak perlu lagi melirik ke danau seberang, karena sungai di depan rumah sendiri sudah jernih, aman, dan menjanjikan.

Mungkin di malam hari, Calvin masih memikirkan angka 72% itu. Itu bukan cuma statistik kerugian. Lebih dari itu, ia adalah cermin uji naluri kolektif kita. Di satu sisi, ada dorongan untuk menjelajah, memburu peluang di pasar global tanpa batas. Di sisi lain, ada keinginan untuk membangun rumah yang kokoh, ekosistem lokal yang bisa diandalkan.

Transisi pengawasan kripto ke OJK lewat POJK 27/2024 adalah kompas baru. Momentum ini harus dimanfaatkan untuk membangun jembatan. Menghubungkan kegelisahan pemula dengan pengetahuan, naluri berburu dengan aturan main, serta arus modal global dengan fondasi pasar domestik yang sehat.

Di labirin dunia digital yang penuh teka-teki ini, jalan keluar terbaik mungkin bukan mencari pintu rahasia. Tapi bersama-sama menyalakan lebih banyak lampu. Agar labirin itu tak lagi menakutkan, melainkan jadi arena petualangan yang bertanggung jawab.


Halaman:

Komentar