keluh seorang pekerja beretnis China kepada AFP. Rasanya ketakutan itu menular. Pekan lalu, kompleks-kompleks bisnis serupa di berbagai lokasi juga ramai dengan aktivitas kepergian.
Mereka umumnya adalah korban janji kerja dengan upah menggiurkan, tapi akhirnya terperangkap di kompleks tertutup. Beberapa bahkan kabur sebelum penggerebekan terjadi. Target utama bisnis ini adalah warga China sendiri, dengan modus operandi yang bervariasi, dari skrom asmara palsu hingga investasi kripto bodong.
“Perusahaan kami di China mengatakan, bahwa kami harus pergi sekarang juga,”
kata seorang pekerja asal Bangladesh di lokasi yang sama. Meski begitu, beberapa masih berusaha optimis. “Tapi sepertinya kita aman-aman saja, ada sejumlah tawaran pekerjaan baru,” ujarnya.
Pemicu: Tangkap Bos Buronan
Chen Zi, sang bos yang dideportasi itu, adalah otak di balik Prince Group. Perusahaannya ini terlibat dalam kriminalitas siber dan mengelola sejumlah tempat judi di hotel-hotel Sihanoukville. Atas permintaan pemerintah China, dia akhirnya dideportasi pada awal Januari. Otoritas China menyebut ekstradisi ini sebagai buah kerja sama penegakan hukum yang sukses antara kedua negara.
Lonjakan yang Fantastis
Gelombang pengungsi scam ini mencapai puncaknya dalam lima hari terakhir. KBRI Phnom Penh mencatat, sudah 1.440 WNI yang mereka tangani. Angka yang benar-benar meledak terjadi pada Senin, 19 Januari, di mana 520 orang datang hanya dalam satu hari. Sebuah angka yang sangat signifikan dibanding total penanganan kasus sepanjang 2025 yang ‘hanya’ 5.008.
“Angka ini cukup fantastis,”
tulis KBRI dalam rilisnya. Mereka yakin arus ini belum akan reda. Mayoritas WNI yang datang menghadapi masalah dokumen: paspor disita sindikat atau izin tinggal yang tidak valid.
Saat ini, proses pendataan dan asesmen masih berjalan cepat. KBRI sudah mulai menerbitkan Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) secara masif. Beberapa WNI yang sakit sudah dirujuk ke rumah sakit, sementara empat orang lainnya dilaporkan telah pulang sendiri.
Untuk mempercepat repatriasi, KBRI tengah berkoordinasi intens dengan polisi dan imigrasi Kamboja. Mereka berusaha mencari keringanan denda overstay dan mempermudah penerbitan exit permit. Imbauan juga disampaikan: WNI lain yang masih bersembunyi di Kamboja agar segera melapor, dan masyarakat diimbau waspada terhadap penipuan yang mengatasnamakan kedutaan.
Artikel Terkait
Prabowo Gandeng 24 Profesor Inggris untuk Bangun 10 Kampus Baru di Indonesia
Enam Jenazah Korban Kecelakaan Pesawat di Gunung Bulusaraung Ditemukan
Kejagung Geledah Money Changer, Telusuri Aliran Dana Kasus Limbah Sawit
Prabowonomics di Davos: Gagasan atau Gincu Ekonomi?