Setelah berhari-hari pencarian intensif di medan yang berat, akhirnya ada titik terang. Tim SAR gabungan berhasil menemukan kotak hitam pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Pangkep, Sulsel. Penemuan krusial ini terjadi pada Rabu, 21 Januari, tepat di hari kelima operasi.
Yang ditemukan bukan cuma satu, melainkan kedua perekam vital itu: Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR). Kondisinya? Masih menunggu konfirmasi lebih lanjut, tapi penemuannya sendiri sudah jadi angin segar untuk proses penyelidikan.
Menurut rencana, kotak hitam itu bakal segera diserahkan ke KNKT. Di tangan ahli KNKT-lah, data di dalamnya akan dibongkar dan dianalisis untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi sebelum pesawat itu jatuh.
Fungsi kedua perekam ini memang berbeda, tapi saling melengkapi. FDR itu ibarat "penjaga data teknis". Ia merekam segudang parameter penerbangan: mulai dari ketinggian, kecepatan, arah, posisi, sampai kondisi mesin. Dari data inilah kronologi penerbangan bisa direkonstruksi ulang.
Sementara itu, CVR adalah "telinga" di kokpit. Alat ini menangkap setiap percakapan antar kru, komunikasi dengan menara kendali, bahkan suara-suara latar yang mungkin jadi petunjuk penting. Gabungan data dari kedua kotak hitam inilah yang diharapkan bisa menjawab teka-teki kecelakaan ini.
Artikel Terkait
Putusan MK Paksa Pemerintah Segera Revisi UU Polri
Mendagri Tinjau Kerusakan Jembatan di Bireuen, Pastikan Dana TKD Dikembalikan untuk Pemulihan
Yusril Soroti Kontradiksi Putusan MK Soal Jabatan Polisi Aktif
Pemerintah Targetkan Aturan Penempatan Polisi Aktif di Jabatan Sipil Rampung Awal 2026