200 Triliun untuk UMKM, Kok Malah Ngendon di Pasar Modal?

- Rabu, 21 Januari 2026 | 19:50 WIB
200 Triliun untuk UMKM, Kok Malah Ngendon di Pasar Modal?

Si taipan tentu bingung. "Buat apa? Bisnis lagi sepi. Ekspansi sekarang malah bisa buntung."

Bank mungkin membujuk, "Sudah ambil saja, yang penting cair dan lancar bayarnya." Ini cuma ilustrasi, tentu saja.

Anggap saja pinjaman itu diambil. Lalu uangnya dipakai untuk apa? Bangun pabrik? Ekspansi? Rasanya tidak masuk akal di kondisi sulit. Mereka bisa terjebak utang. Jadi, pilihannya? Pertama, bisa dialihkan ke surat utang pemerintah. Bunganya sekitar 7%. Pinjam dari bank 4%, lalu beli SBN yang bagi hasil 7%. Lumayan dapat spread.

Tapi kan instrumen surat utang negara juga terbatas. Nah, sisa dana yang belum terserap itu kemana? Mengalir ke pasar modal. Dipakai untuk 'menggoreng' saham. Akibatnya, indeks melambung tinggi. Inilah yang mungkin mendongkrak angka pertumbuhan ekonomi. Tumbuhnya di mana? Ya, di pasar modal. Di atas, bukan di lapangan.

Bagi yang belum paham makna pertumbuhan ekonomi, silakan cek artikel saya lainnya.

Intinya, mungkin pertumbuhan ekonomi itu ada. Tapi sifatnya timpang. Hanya dinikmati segelintir orang yang bermain di pasar aset. Sementara sektor riil di bawah tetap terpuruk.

Fenomena ini punya namanya: "K-Shaped Recovery".

Seperti huruf K, pemulihannya bercabang dua. Satu cabang melesat naik, sementara cabang lainnya justru terjun bebas. Itulah gambaran yang mungkin sedang kita alami sekarang.


Halaman:

Komentar