Mereka terpaksa bermalam di lereng tebing. Konturnya berbatu dan labil berisiko longsor karena hujan tak kunjung reda. Seluruh personel bertahan bersama jenazah di lokasi itu selama kurang lebih 30 jam. Bayangkan saja.
“Kami turun dari titik dekat lokasi jatuh. Setelah ketemu korban, medan dan cuaca benar-benar nggak bersahabat. Hujan, kabut, dingin. Kami terpaksa bertahan di lereng semalaman sambil menjaga jenazah,” kenang Rusmadi.
Keesokan siangnya, tanggal 19 Januari, kondisi fisik personel sudah di ujung tanduk. Demi keselamatan, tim pertama menyerahkan estafet jenazah kepada tim lanjutan.
“Keselamatan tim tetap prioritas utama. Makanya evakuasi dilanjutkan oleh tim berikutnya,” tegasnya.
Perjalanan pun berlanjut. Tim kedua membawa jenazah menuju area persawahan Kampung Lampeso. Perjalanan ini makan waktu 20 jam lamanya. Di Lampeso, mereka disambut tim ketiga untuk melanjutkan perjalanan ke kampung baru. Jalannya? Jalan setapak sepanjang 15 kilometer, melewati punggungan dan sungai.
Belum selesai. Dari sana, masih harus berjalan kaki lagi sekitar 5 kilometer untuk mencapai jalan poros Kecamatan Cenrana. Rencananya, dari situ jenazah akan dibawa ke RS Bhayangkara Makassar untuk proses identifikasi oleh tim DVI.
Sampai berita ini ditulis, korban pertama masih berada di Lampeso. Perkembangan terbaru dari lapangan masih terus ditunggu.
Artikel Terkait
Gaji Sopir MBG Lebih Tinggi, Guru Honorer: Miris Hati Saya
Bupati Pati Dijerat Dua Kasus Korupsi, Nilainya Capai Miliaran Rupiah
Duel Gladiator Pelajar Berujung Patah Tulang di Sindangbarang
Makan Bergizi Gratis: Antara Harapan di Pesantren dan Bayang-bayang Keracunan