Suara pintu rumahnya yang didobrak masih terus mengiang di telinga ChongLy Thao. Atau Scott, begitu ia biasa disapa. Perasaan campur aduk ketakutan, malu, dan putus asa menghantuinya, bahkan setelah ia dibebaskan oleh petugas Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE). Semua ini bermula dari sebuah kesalahan.
Kejadiannya begitu cepat dan brutal. Dengan senjata terhunus, petugas federal mendobrak masuk, memborgolnya, lalu menyeret pria berusia 56 tahun itu ke salju yang dingin. Saat itu, Scott hanya mengenakan celana pendek dan sandal. Ia akhirnya dilepaskan pada hari Minggu, 18 Januari, tanpa ada penjelasan apalagi permintaan maaf.
Menurut penuturannya kepada Reuters, malam itu sebenarnya sedang berlangsung momen bahagia. Scott dan keluarganya sedang bernyanyi bersama di rumah. Tiba-tiba, suara keras mengguncang pintu. Panik, mereka semua lari bersembunyi di kamar tidur. Di sanalah petugas menemukan mereka.
"Mereka membawa saya tanpa pakaian dan hanya ditutupi selimut cucu saya. Ya, mereka membawa saya dan saya berpikir, 'Astaga, ini... ini memalukan,'" kenang Thao, suaranya masih terdengar getir.
Ia berusaha mencari kartu identitasnya saat sudah diarak keluar. Tapi percuma. Petugas menolak memberinya kesempatan sekadar untuk memakai baju yang layak. Ia terpaksa menghadapi dinginnya malam dengan pakaian yang nyaris tak ada.
Di sisi lain, Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) punya penjelasan lain. Mereka menyatakan petugas sedang menyelidiki dua pelaku kejahatan seksual yang dihukum, yang alamatnya ternyata sama dengan rumah Scott. Operasi itu, kata mereka, adalah prosedur standar.
Juru bicara DHS, Tricia McLaughlin, menegaskan bahwa Scott awalnya diduga sebagai salah satu target. "Protokolnya mengharuskan kami menahan semua individu di lokasi operasi, demi keselamatan publik dan petugas," begitu kira-kira isi pernyataannya.
Menurut DHS, penahanan terjadi karena Thao menolak untuk diambil sidik jari atau diidentifikasi wajahnya. Namun begitu prosedur itu selesai dilakukan di dalam mobil, ia pun langsung dibebaskan.
Cerita Scott ini punya latar yang panjang. Pria ini sebenarnya adalah warga AS yang dinaturalisasi. Orang tuanya membawanya mengungsi dari Laos pada 1974, saat usianya baru empat tahun. Ia resmi menjadi warga negara pada 1991. Kini, setelah puluhan tahun membangun kehidupan, ia justru diperlakukan seperti penjahat di depan mata keluarganya sendiri. Pengalaman yang, baginya, tak mudah dilupakan.
Artikel Terkait
Narkoba Sintetis di Makassar Beredar Lewat Vape dan Medsos, Polisi Ungkap Modus Baru
Pengemudi Ojol Dianiaya Pelanggan, Amukan Massa Hampir Ricuh di Makassar
Maros Gelar Pelatihan Respons Cegah KLB Campak Usai 31 Anak Terkonfirmasi Positif
Remaja 18 Tahun Tewas dalam Tabrakan Truk dan Motor di Poros Maros-Pangkep