Kisah Dedy Aryanto: Bertahan di Tengah Sepinya Peminat Isi Ulang Gas

- Selasa, 20 Januari 2026 | 15:36 WIB
Kisah Dedy Aryanto: Bertahan di Tengah Sepinya Peminat Isi Ulang Gas

Di bawah payung biru yang sudah lusuh, Dedy Aryanto (38) duduk menunggu. Gerobak gasnya yang sederhana terparkir di tepi Jalan Kusumanegara, Yogyakarta, Selasa (20/1) lalu. Hanya ada sebuah meja dan beberapa tabung gas ukuran 12 dan 3 kilogram yang menjadi pemandangan sehari-harinya.

Profesi ini sudah mendarah daging. Dedy mulai membantu ayahnya sejak 1997, dan sepeninggal sang ayah pada 2015, dialah yang mengambil alih. "Ini kan pekerjaan warisan," ujarnya, menjelaskan alasan bertahan. Namun begitu, ia tak menampik kenyataan yang ada: pelanggan isi ulang gas kian hari kian sepi.

Kebanyakan yang masih datang saat ini hanya untuk mengisi ulang kaleng gas atau gas portable. Sementara itu, jasa isi ulang korek gas praktis sudah mati sejak sepuluh tahun terakhir.

"Ngisi korek? Sudah jarang banget," katanya sambil menggeleng. "Mending beli baru."

Memang, seiring waktu harga korek baru di pasaran jadi sangat murah. Banyak orang merasa lebih praktis dan efektif membeli yang baru ketimbang repot mengisi ulang. Alhasil, Dedy kini cuma bertumpu pada jasa isi ulang kaleng gas saja.

Omzet Menurun

Omzetnya pun tak lagi seperti dulu. Dedy bercerita, penurunan drastis mulai terasa sejak harga tabung gas 12 kilogram melambung tinggi. Itulah sebabnya ia kini juga menyediakan tabung ukuran 3 kilogram.

"Semenjak gas 12 kilo mahal, omzet ya turun," keluhnya.

Dulu, dalam sehari ia bisa mengisi sampai 80 kaleng. Sekarang? Paling banter cuma 20 kaleng. Tarifnya Rp 9.000 per isi. Ia menjelaskan, satu tabung gas melon penuh biasanya cukup untuk sembilan kaleng. Tapi kalau ada kebocoran, ya cuma bisa untuk tiga atau empat kaleng saja.

Soal teknik, menurut Dedy sebenarnya tidak ada yang istimewa. Proses mengisi kaleng gas itu bisa dilakukan sendiri di rumah. Tapi ya itu, risikonya ada.

"Pertama, baunya menyengat. Kedua, kalau kelewat penuh, kalengnya bisa rusak atau malah bocor," jelasnya.

Meski begitu, Dedy tetap berikhtiar. Setiap hari, dari pukul 10 pagi sampai 7 malam, ia setia membuka lapak. "Buka sampai jam 7 malam," pungkasnya, menatap jalanan yang ramai lalu lalang kendaraan.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar