Kekhawatiran itu belum juga reda. Menurut Minin, Ketua RT setempat, kondisi tanggul yang masih rapuh membuat warga memilih untuk tetap waspada.
“Warga memilih mengungsi sementara karena takut air naik lagi. Hujan masih sering turun, sementara tanggul masih rawan,”
ungkapnya, Selasa itu juga. Ancaman banjir susulan masih sangat nyata menggantung di atas kepala mereka.
Di tengah situasi serba terbatas, upaya gotong royong tetap berjalan. Warga bersama aparat setempat bahu-membahu melakukan penanganan darurat. Karung-karung diisi tanah, bambu disusun, dengan peralatan seadanya mereka berusaha membendung aliran agar tidak makin meluas. Sebuah perlawanan yang heroik, meski semua pihak sadar betul ini hanya solusi sesaat.
Kini, harapan terbesar warga Muara Gembong tertuju pada pemerintah. Mereka mendambakan penanganan yang cepat dan serius, bukan sekadar tambal sulam. Perbaikan tanggul secara menyeluruh adalah sebuah keharusan yang mendesak. Ribuan jiwa di bantaran Citarum masih terus menanti, dengan mata memandang langit yang kelabu, khawatir cuaca ekstrem akan kembali menguji ketahanan rumah dan tanggul mereka yang sudah porak-poranda.
Artikel Terkait
Ketika Negara Mengintip Kamar Tidur: Dilema KUHP Baru dan Perkawinan yang Dipidanakan
Dominasi NVIDIA di Pasar AI Tiongkok Diprediksi Rontok ke 8% pada 2026
Demokrasi di Balik Layar: Ketika Oligarki Mengatur Panggung Politik Indonesia
KUHAP Baru Resmi Berlaku, Keadilan Restoratif dan Hukum Adat Jadi Pilar Utama