Lereng Gunung Bulusaraung yang curam menyimpan keheningan yang mencekam pagi itu. Saiful Malik, seorang anggota tim SAR berusia 32 tahun, bersama 17 rekannya menyisir area dengan hati-hati. Mata mereka tak lepas mengamati setiap jengkal tanah, setiap pepohonan yang rusak. Serpihan-serpihan pesawat ATR 42-500 yang berserakan di antara semak dan batu menjadi penanda awal yang suram.
“Saya melihat serpihan-serpihan,” kenang Saiful, saat ditemui di Pangkep, Senin (19/1).
“Kemudian saya cari jalan menuju serpihan itu. Saya menyisir ke kanan, lalu melihat bekas-bekas pohon dan batu yang pecah.”
Dari titik itu, nalurinya mulai bekerja. Ada firasat kuat bahwa pencarian mereka akan segera berakhir. Ia pun bergerak pelan, menyusuri lereng sebelah. Dan di sanalah, pemandangan yang mengharukan sekaligus menyedihkan itu terlihat: seorang korban tergantung tersangkut di dahan pohon.
“Saya sudah mulai curiga kemungkinan ada di sini,” lanjut Saiful, suaranya rendah. “Saya agak menyisir ke lereng sebelah dan ternyata di situ saya menemukan korban tersangkut di pohon.”
Waktu menunjukkan sekitar pukul dua lewat siang. Saiful mengaku tak langsung mendekat. Ia memilih menunggu kedatangan rekan-rekan dari Basarnas dan tim lainnya. Butuh kekompakan dan hati yang tenang sebelum memulai proses yang lebih detail.
Artikel Terkait
Kiai-Kiai Cirebon Desak PBNU: Pecat Kader Tersangka Korupsi Sekarang Juga
Wali Kota Madiun Tiba di KPK Usai OTT, Diduga Terkait Fee Proyek dan CSR
Wali Kota Madiun Diamankan KPK, Tegaskan Komitmen Membangun di Depan Wartawan
Pendidikan Tanpa Arah: Ketika Kecerdasan Tanpa Akhlak Menjadi Bencana