Buat para penggemar politik, mari kita berhenti sejenak. Tahun 2026 ini baru saja dimulai, tapi suasana politik nasional sudah terasa panas. Bukan cuma soal resolusi tahun baru, melainkan dua partai politik baru yang tiba-tiba muncul di panggung. Namanya? Gema Bangsa dan Gerakan Rakyat.
Dengan kelahiran keduanya, hitungan kasar menunjukkan kita sekarang punya 78 partai politik. Cukup banyak, bukan?
Bayangkan saja. Negeri dengan 270 juta jiwa ini rasanya bukan kekurangan masalah, tapi justru kelebihan pilihan partai. Mirip seperti rumah makan Padang yang menawarkan puluhan jenis sambal, sementara pelanggannya masih saja sibuk berdebat soal rendang yang itu-itu juga.
Semuanya berlangsung cepat. Tanggal 17 Januari lalu, dentuman deklarasi Partai Gema Bangsa menggema di JCC Senayan. Seremoninya heboh, tak kalah dari euforia sepak bola.
Kebetulan hari itu memang spesial. Di Manchester, United baru saja menaklukkan City dengan skor 2-0. Dua gol, dua partai baru. Seolah semesta lagi sinkron.
Partai ini dipimpin Ahmad Rofiq, mantan Sekjen Perindo. Mereka datang membawa visi “Indonesia Mandiri” dan “Indonesia Reborn”. Klaimnya sih, ingin menyegarkan politik yang dianggap sudah bau. Tapi, di sisi lain, mereka juga dengan lugas menyatakan dukungan penuh untuk Prabowo Subianto di Pilpres 2029 mendatang.
Agak lucu sebenarnya. Seperti bilang anti gorengan, tapi pesan tahu isi satu lusin.
Belum reda gegap gempita itu, sehari kemudian, tepatnya 18 Januari, giliran Partai Gerakan Rakyat yang unjuk diri. Mereka memilih Hotel Arya Duta di Menteng sebagai panggung.
Kalau Gema Bangsa ibarat sambal terasi yang pekat, Gerakan Rakyat ini lebih mirip sambal matah. Segar, berisik, dan isinya kelihatan jelas dari jauh.
Pimpinan partai ini ada di tangan Sahrin Hamid, dengan M. Ridwan sebagai Sekjen. Mereka mengklaim diri sebagai evolusi dari organisasi masyarakat yang sudah dirintis sejak 2023. Proses deklarasinya pun dikemas modern, pakai musyawarah plus e-voting, biar terasa demokratis dan kekinian.
Namun yang bikin panggung makin panas adalah kehadiran Anies Baswedan. Dia datang sebagai anggota kehormatan, memberi orasi kebangsaan yang hangat. Tanpa perlu banyak kode, sambal ini dari awal sudah berlabel “Anies”. Jelas sekali arahnya.
Jadi, dalam dua hari, publik disuguhi dua “sambal” baru. Satu pedasnya filosofis, satunya lagi personal. Satu bicara kelahiran kembali bangsa, satu lagi langsung tunjuk calon.
Padahal, kalau kita lihat data resmi dari Ditjen AHU per September 2024, Indonesia sudah punya 76 partai terdaftar. Tambah dua ini, jadilah 78. Angka yang lebih cocok untuk katalog festival kuliner ketimbang peta ideologi sebuah bangsa.
Ini yang bikin ironis. Dari 76 partai yang ada, cuma 18 yang ikut Pemilu 2024. Dan dari jumlah itu, hanya delapan yang berhasil melenggang ke parlemen. Sisanya? Mereka bagai sambal di etalase warnanya menarik, namanya pedas, tapi jarang ada yang memesan.
Tapi rupanya, fakta itu tak menyurutkan semangat. Di politik Indonesia, kegagalan sepertinya bukan akhir. Ia cuma alasan untuk ganti kemasan dan stiker, lalu mulai lagi dari nol.
Dan sekarang, kita masuk 2026 dengan dua optimisme baru. Gema Bangsa sibuk membangun struktur untuk Pemilu 2029, mengaku sebagai jawaban kegelisahan rakyat. Sementara Gerakan Rakyat memilih jalur berbeda, dari gerakan sosial naik kelas, dengan target tunggal: mendorong Anies ke Istana.
Dua jalur. Dua rasa. Tapi dapurnya sama: demokrasi Indonesia. Kompornya menyala terus, meski minyaknya kadang-kadang tak pernah diganti.
Rakyat hanya bisa menyaksikan, sambil mungkin tertawa getir. Seperti penonton derby Manchester tadi, berteriak gol tapi hati tetap was-was. Sendok di tangan, sambal di piring, kepala penuh spanduk janji.
Di tengah hiruk-pikuk 78 partai ini, satu pertanyaan menggantung: kita ini sedang serius memilih masa depan bangsa, atau sekadar jadi penonton di liga sambal nasional yang sistem degradasinya tak pernah benar-benar jalan?
(Ketua Satupena Kalbar)
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Ucapkan Selamat Hari Kartini Lewat Unggahan Instagram
Harga Emas Antam Naik Rp 40.000 per Gram, Buyback Melonjak Rp 50.000
BMKG Prakirakan Cuaca Makassar Cerah Pagi, Berpotensi Hujan Ringan Siang hingga Malam
SIM Keliling Bandung Buka di Dua Lokasi untuk Perpanjang SIM A dan C