Nah, lonjakan angka temuan ini justru harus dilihat sebagai sinyal positif. Artinya, semakin banyak penderita yang akhirnya terdeteksi dan bisa segera mendapat pengobatan. “Emang justru harus naik, supaya ketahuan lebih banyak dan diobati lebih banyak. Karena selama ini nggak ketahuan aja,” tegas Budi.
Menyasar 900 Ribu Kasus
Per Desember 2025, data yang terkumpul sudah menunjukkan 860 ribu kasus TBC terdeteksi. Angka ini diprediksi masih akan bertambah, mengingat sering terjadi keterlambatan pelaporan dari berbagai fasilitas kesehatan.
“Jadi sekarang udah naik terus. Sebenarnya target saya tahun ini 900 ribu. Cuma memang deteksi itu masukin report-nya biasanya delay sampai 2 bulan, 3 bulan,”
ujar Budi menjelaskan.
Untuk memutus mata rantai penularan dan menekan angka kematian, Kementerian Kesehatan punya strategi. Langkah pertama adalah menggencarkan skrining secara nasional, masif. Rencananya, pemeriksaan TBC akan dimasukkan ke dalam layanan cek kesehatan gratis di Puskesmas.
“Jadi nomor satu, screening-nya akan kita agresifkan. TBC dimasukkan ke cek kesehatan gratis Puskesmas. Jadi ratusan juta orang akan di-screening TBC,”
jelasnya.
Tak cuma itu, skrining juga akan difokuskan pada kelompok-kelompok rentan dan wilayah dengan potensi penularan tinggi. Mereka mempertimbangkan lokasi-lokasi seperti rumah tahanan, kelompok dengan HIV, dan bahkan pesantren.
“Kita mikirnya mesti rumah-rumah tahanan, kelompok-kelompok rentan HIV. Kita lagi mikir juga mungkin masuk ke pesantren-pesantren, karena mereka kan tidurnya biasa berkelompok. Itu kita mau aktif kita datangi,”
tandas Budi Gunadi Sadikin menutup penjelasannya.
Artikel Terkait
Malapetaka Api di Karachi: 14 Tewas, 60 Hilang, dan Reruntuhan yang Masih Menyimpan Duka
Makam Tujuh Tahun Terbongkar, Tengkorak Almarhum Raib di TPU Kampung Gardu
Menteri Supratman Tegaskan: Bergabung dengan Tentara Asing, Kewarganegaraan Otomatis Hilang
Gus Ipul Dorong Seleksi Terbuka untuk Sekolah Rakyat Jelang Ajaran Baru