“Anehnya, kemudian dia berhenti sendiri. Teman-teman aktivis tahu persis apa yang terjadi. Ada transaksi. Nilainya miliaran. Saksinya banyak,” ungkapnya.
Pola yang serupa terulang lagi. Kasus Hary Tanoesoedibjo di 2005, lalu berlanjut ke kasus Ahok tahun 2017. Polanya itu-itu lagi: keras di awal, lalu tiba-tiba melunak tanpa alasan yang jelas.
Andri bahkan punya istilah khusus yang sudah akrab di telinga para aktivis lama.
“Dia contoh klasik aktivis Bodrex. Hantam target, bikin target takut, lalu ajak damai dengan kompensasi uang,” ujarnya tanpa tedeng aling-aling.
Maka tak heran, menurut Andri, kalau Eggi tak pernah menempati posisi strategis di pemerintahan. Coba bandingkan dengan rekan-rekan seangkatannya seperti Yusril atau Kaban. Mereka punya jalur karier yang jelas. “Eggi selalu mentok,” katanya singkat.
Ada satu hal lagi yang disoroti Andri: klaim kesehatan Eggi. Eggi mengaku menderita kanker usus stadium 4. Tapi Andri mempertanyakan keabsahannya, terutama setelah beredar kabar Eggi terlihat sedang mengemudi di Kuala Lumpur.
“Jangan-jangan ini juga bagian dari siasat cari simpati. Berdamai dengan Jokowi, dapat SP3, bahkan mungkin dapat ‘sangu’. Isunya sampai miliaran,” tegas Andrianto Andri.
Begitulah pengakuannya. Sorotan terhadap Eggi Sudjana, sekali lagi, menguak cerita lama yang tak kunjung usai.
Artikel Terkait
Di Balik Keramaian Braga, Langkah Tegar Nenek Emi dan Plastik Tisunya
Mahasiswi UB Terluka Parah Usai Lompat dari Jembatan Suhat Malang
Gus Nur Sindir Eggi-Damai: Sowan ke Jokowi Bukti Kekalahan Telak
Prabowo Disambut Hangat di Stansted, Agenda Padat Menanti di London