Jadi, keberadaan puisi di tengah krisis ini menunjukkan bahwa masyarakat belum kehilangan suara. Meski tak selalu keras, suara itu tetap hidup dalam kata-kata jujur. Puisi membuktikan, di balik kelelahan dan kekecewaan, masih ada upaya untuk memahami, mengingat, dan menjaga agar harapan tak benar-benar padam.
Selama masih ada yang menulis dan membaca puisi, krisis kepercayaan publik tak hanya akan dicatat sebagai masalah sistem. Tapi juga sebagai pengalaman manusia yang utuh. Dan barangkali, dari pengalaman itulah, lahir kesadaran baru tentang betapa pentingnya mendengar, bukan cuma berbicara.
Bisa dibilang, puisi adalah bentuk perlawanan yang halus. Ia mengganggu dengan cara tenang. Puisi menolak lupa. Ia mencatat apa yang ingin dilupakan oleh waktu dan kekuasaan. Ketika wacana resmi sibuk menutupi kegagalan dengan narasi keberhasilan, puisi hadir sebagai catatan pinggir yang mengingatkan: belum semua selesai hanya karena sudah diumumkan.
Puisi juga nggak tunduk pada siklus berita. Ia tak mengejar viralitas. Bahkan di medsos, puisi bekerja dengan caranya sendiri. Mungkin dibaca sekilas, disimpan, lalu dibuka lagi di lain waktu, saat kondisi batin pembaca sedang sama. Ia membangun relasi personal yang tak bisa dicapai bahasa propaganda.
Dalam krisis, bahasa resmi sering kehilangan daya. Kata-kata jadi kosong karena terlalu sering diulang tanpa bukti. Nah, di titik inilah puisi justru menemukan relevansinya. Ia mengolah bahasa yang retak jadi sesuatu yang bermakna. Puisi tidak menutupi luka, tapi mengakuinya. Pengakuan ini penting, karena kepercayaan tak bisa tumbuh di atas penyangkalan.
Puisi juga mengajarkan kesabaran. Ia tak menawarkan solusi instan. Puisi mengajak kita berhenti sejenak, membaca pelan, dan merasakan. Dalam dunia yang serba cepat dan reaktif, sikap ini makin langka. Padahal, krisis sering diperparah oleh respons gegabah dan kegagalan mendengarkan. Ritme puisi yang pelan adalah latihan untuk memberi waktu pada rasa.
Ia pun bisa jadi jembatan antargenerasi. Emosi sosial yang direkam hari ini akan dibaca generasi nanti sebagai jejak sejarah batin. Mereka mungkin tak mengalami krisis yang sama, tapi lewat puisi, mereka bisa paham suasana perasaan yang pernah ada. Puisi berkontribusi pada ingatan kolektif yang lebih manusiawi.
Di masyarakat yang terpolarisasi, puisi berpotensi jadi ruang temu. Ia tak berdiri di satu kubu secara gamblang, tapi bicara dari pengalaman manusia yang universal. Rasa takut, kehilangan, marah, dan berharap adalah emosi yang melintas batas politik. Puisi mengingatkan bahwa di balik perbedaan, ada kerentanan yang sama.
Tentu saja, puisi bukan obat ajaib. Ia tak serta-merta mengembalikan kepercayaan atau memperbaiki krisis struktural. Tapi puisi menjaga sesuatu yang vital: kepekaan. Tanpa kepekaan, perubahan apa pun berisiko jadi mekanis dan jauh dari kebutuhan nyata. Puisi menjaga agar rasa tidak mati di tengah rutinitas dan kebisingan.
Jadi, memandang puisi sebagai arsip emosi sosial berarti mengakui perannya dalam kehidupan publik. Ia adalah cara masyarakat merekam dirinya sendiri saat bahasa resmi gagal. Ia menyimpan yang tak tercatat, mengingatkan yang nyaris dilupakan, dan memberi ruang bagi emosi yang tak dapat tempat di forum formal.
Pada akhirnya, krisis kepercayaan tak cuma menuntut reformasi kebijakan. Tapi juga pemulihan hubungan antara negara dan warga. Hubungan ini tak cuma dibangun lewat regulasi, tapi lewat kemampuan saling memahami. Di sinilah puisi berkontribusi bukan sebagai solusi teknis, tapi sebagai pengingat bahwa kepercayaan berakar pada pengakuan atas rasa manusia.
Selama puisi masih ditulis dan dibaca, berarti kita masih berusaha merawat kepekaan itu. Dan selama kepekaan masih hidup, harapan untuk membangun kembali kepercayaan meski perlahan dan penuh luka tetap terbuka. Puisi adalah tandanya: di tengah krisis, kita masih ingin didengar dan mendengar, bukan cuma sebagai warga negara, tapi sebagai sesama manusia.
Muhamad Robbani, Sastra Indonesia, Universitas Pamulang
Artikel Terkait
Tiga Penerbangan Modifikasi Cuaca Diterbangkan untuk Tahan Banjir Jakarta
Gerakan Rakyat Resmi Berkibar Jadi Partai, Sahrin Hamid Pimpin Transformasi
Harapan dan Doa di Pondok Bambu untuk Yoga, Korban Hilang Pesawat Maros
Dari Tunanetra Jadi Terapis Andalan, Andry Buktikan Disabilitas Bukan Halangan Berkarya