Dan demi Jokowi pula, KUHAP seolah mendapat penafsiran baru bernama Restorative Justice. Korban pertamanya ya Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis itu. Eggi lalu terbang ke Malaysia naik pesawat, bukan mobil VW. Sementara DHL kebingungan, harus memenuhi undangan media dan belepotan menjelaskan situasi. Ia seperti ditinggal sendirian. Jokowi, meski sedang sakit, tampak bahagia. Ia menari dan menyanyi sambil mengatur Polri. Sandalnya, bagi banyak orang, terasa sakti.
Pada akhirnya, polisi melanjutkan atau menghentikan perkara tergantung Jokowi. Semua tersangka dipelototi dengan ultimatum yang sama: "sowan ke Solo, dapat SP3". Kalau tidak? Urusan dilanjutkan ke kejaksaan. Meski ada kabur soal status delik aduan, faktor penentunya tetap satu. Dipenggal atau tidak, tergantung jempol sang raja. Naik atau turun.
Ini lucu, ironis, sekaligus paradoks. Yang diduga melakukan kejahatan pemalsuan dan menggunakan ijazah palsu adalah Jokowi. Tapi yang sibuk diperiksa justru orang-orang yang menuntut pengungkapan fakta soal ijazah tersebut. Masyarakat pun makin jelas melihatnya: polisi ternyata benar-benar berada di bawah sandal Jokowi.
Sandal raja itu dipakai untuk melangkah. Dan untuk menginjak para punakawan.
") Pemerhati Politik dan Kebangsaan
Bandung, 18 Januari 2026
Artikel Terkait
Hands Off Greenland: Warga Nuuk dan Denmark Serukan Kedaulatan di Tengah Dinginnya Politik
KUHAP Baru: Kekuasaan Polisi Menggurita, Perlindungan Warga Tergerus
Pernikahan Sekretaris Pribadi Prabowo Dihadiri Deretan Elite Politik
Krisis Wibawa Guru: Ketika Pendidikan Kehilangan Ruhnya