Sutoyo Abadi: Oligarki dan Dinasti Jokowi Ancaman Nyata Keutuhan Bangsa

- Minggu, 18 Januari 2026 | 12:00 WIB
Sutoyo Abadi: Oligarki dan Dinasti Jokowi Ancaman Nyata Keutuhan Bangsa

Gibran Didukung Penuh Oligarki, Sutoyo Abadi: Jika Jadi Presiden, Indonesia Bisa Pecah

Kritik tajam dilontarkan Kajian Politik Merah Putih yang dikomandani Sutoyo Abadi. Intinya, arah negara ini dianggap oleng. Semua bermula pasca UUD 1945 asli dilibas dan diganti dengan UUD 2002 sebuah perubahan yang disebutnya tak lepas dari guncangan kekuatan asing. Akibatnya, negara berjalan tanpa kompas yang jelas.

Pancasila dan UUD 45 yang asli, termasuk Pembukaannya, kini cuma jadi pajangan. Realitanya, Indonesia telah berubah total menjadi negara kapitalis. Sutoyo menilai, mantan Presiden SBY dan Megawati punya andil besar dalam penggantian konstitusi itu.

“Tapi keadaan makin parah saat Jokowi berkuasa,” ujar Sutoyo dalam keterangannya, Ahad lalu.

Negara dibuka lebar-lebar. Hampir semua kebijakan politik dan ekonomi, menurutnya, diatur dan dikendalikan oleh segelintir oligark. Politik dinasti Jokowi memperburuk keadaan dengan merekayasa Gibran menjadi Wakil Presiden.

Lalu bagaimana dengan kepemimpinan Prabowo Subianto sekarang?

“Prabowo mengaku penerus kebijakan Jokowi, dan dalam perjalanannya, pengaruh Xi Jinping justru makin kuat,” tambahnya.

Kekuatan oligarki, lanjut dia, kini seperti membentuk ‘negara dalam negara’ dan berjalan tanpa hambatan.

Sayangnya, semua kebijakan Presiden saat ini dinilai Sutoyo hanya mentok di pidato. Di lapangan, rakyat mulai memberi stigma ‘omon-omon’ belaka. Peringatan dari para senior bahwa negara dalam bahaya pun terkesan diabaikan.

“Presiden Megawati sendiri pernah memperingatkan Indonesia bisa menjadi ‘Balkan di Hemisfer Timur’. Itu diucapkannya pada 2001 lalu. Tapi sekarang, beliau sibuk dengan urusan internal partai,” kata Sutoyo.

Peringatan serupa sebenarnya juga pernah disampaikan Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam sebuah buku, SBY mengungkap ‘lima skenario masa depan Indonesia’ yang intinya mirip ramalan Megawati. Namun, kedua tokoh itu kini seperti tenggelam ditelan bumi.

Di tengah kondisi yang kacau, rakyat sempat berharap banyak pada Prabowo. Mereka menyatakan baiat, siap membersamai tugasnya menyelamatkan Indonesia.

“Tapi kenyataannya?” lanjut Sutoyo.

Prabowo dinilainya belum memberi respons nyata dengan tindakan riil. Ia seperti presiden bayangan Jokowi, tanpa arah yang jelas. Resonansi pidatonya masih terperangkap dalam janji-janji yang mirip era sebelumnya.

Keadaan makin memburuk. Sinyal kekacauan politik dan ekonomi sulit dihindari, terutama dalam transisi dari pengaruh Amerika ke pengaruh China. Kemarahan rakyat menggumpal. Dan semua ini, menurut Sutoyo, berakar dari negara yang berjalan tanpa arah pasca pemberlakuan UUD 2002.

Faktor lain yang dikhawatirkannya adalah peran Jokowi pasca lengser.

“Jokowi telah menjelma jadi oligark. Dia bersenyawa dengan kekuatan oligarki lain untuk mempersiapkan anaknya, Gibran,” terang Sutoyo, merujuk pada suatu kesepakatan yang disebutnya terjadi pada 2024.

Skemanya, Presiden dipaksa turun setelah dua atau tiga tahun berkuasa, lalu digantikan oleh Gibran.

Jika itu terjadi, huru-hara tidak terhindarkan. Gibran dipaksakan jadi Presiden akan menjadi pemicu utama. Indonesia pecah ramalan Megawati dan SBY bisa terjadi lebih cepat dari yang dibayangkan.

Wallahu'alam.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar