Gibran Didukung Penuh Oligarki, Sutoyo Abadi: Jika Jadi Presiden, Indonesia Bisa Pecah
Kritik tajam dilontarkan Kajian Politik Merah Putih yang dikomandani Sutoyo Abadi. Intinya, arah negara ini dianggap oleng. Semua bermula pasca UUD 1945 asli dilibas dan diganti dengan UUD 2002 sebuah perubahan yang disebutnya tak lepas dari guncangan kekuatan asing. Akibatnya, negara berjalan tanpa kompas yang jelas.
Pancasila dan UUD 45 yang asli, termasuk Pembukaannya, kini cuma jadi pajangan. Realitanya, Indonesia telah berubah total menjadi negara kapitalis. Sutoyo menilai, mantan Presiden SBY dan Megawati punya andil besar dalam penggantian konstitusi itu.
“Tapi keadaan makin parah saat Jokowi berkuasa,” ujar Sutoyo dalam keterangannya, Ahad lalu.
Negara dibuka lebar-lebar. Hampir semua kebijakan politik dan ekonomi, menurutnya, diatur dan dikendalikan oleh segelintir oligark. Politik dinasti Jokowi memperburuk keadaan dengan merekayasa Gibran menjadi Wakil Presiden.
Lalu bagaimana dengan kepemimpinan Prabowo Subianto sekarang?
“Prabowo mengaku penerus kebijakan Jokowi, dan dalam perjalanannya, pengaruh Xi Jinping justru makin kuat,” tambahnya.
Kekuatan oligarki, lanjut dia, kini seperti membentuk ‘negara dalam negara’ dan berjalan tanpa hambatan.
Sayangnya, semua kebijakan Presiden saat ini dinilai Sutoyo hanya mentok di pidato. Di lapangan, rakyat mulai memberi stigma ‘omon-omon’ belaka. Peringatan dari para senior bahwa negara dalam bahaya pun terkesan diabaikan.
“Presiden Megawati sendiri pernah memperingatkan Indonesia bisa menjadi ‘Balkan di Hemisfer Timur’. Itu diucapkannya pada 2001 lalu. Tapi sekarang, beliau sibuk dengan urusan internal partai,” kata Sutoyo.
Artikel Terkait
Serpihan Pesawat ATR Ditemukan di Lereng Gunung, Evakuasi Segera Dilakukan
Eggi Sudjana Berbalik 180 Derajat: Dari Tuntut Jokowi ke Puji Akhlaknya
Jakarta Tenggelam, Warga Nekat Paksa Jalan di Tengah Banjir
Angka Ekonomi Menggurita, Kelas Menengah Justru Menyusut