Di sisi lain, kerja sama dengan Moya hingga kini dinilai belum membawa perubahan berarti. Khususnya bagi warga miskin di sudut-sudut kota yang masih bergantung pada air tanah tak layak minum. Wacana perbaikan infrastruktur dan pipa tua memang terus digaungkan. Tapi di lapangan, ceritanya lain.
“Fakta di lapangan masih jauh panggang dari api,”
kata Hari, menggambarkan kesenjangan antara janji dan realita.
Lebih jauh, ia mengingatkan agar IPO ini jangan sampai jadi batu loncatan bagi monopoli dari hulu ke hilir oleh segelintir pemodal. Kekhawatirannya, yang diuntungkan justru pihak-pihak yang sudah lebih dulu menjalin kontrak strategis.
“Jangan sampai publik disuguhi wajah malaikat, tetapi berhati iblis. Pengelolaan air harus tetap berpihak pada rakyat, bukan pada logika pasar semata,”
pungkasnya.
Rencana IPO 2027 ini, tampaknya, masih akan panjang perdebatannya. Antara efisiensi badan usaha dan amanat konstitusi untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Artikel Terkait
WTC Mangga Dua Terendam, Lalu Lintas Lumpuh Hingga Siang
Kecelakaan Motor Berujung Maut, Mahasiswa Papua Tewas Ditusuk Teman Sebaya
Banjir Rendam Sepuluh Titik di Bekasi, Ratusan Warga Mengungsi
Tersangka Kasus Ijazah Palsu Tuntut Keadilan Proses Hukum, Sebut Ada Diskriminasi Polda