Di sisi lain, masyarakat punya pandangan sendiri. Stigma "soldier of fortune" atau prajurit pemburu rezeki melekat kuat. Mereka dianggap bertempur hanya untuk uang, bukan untuk membela tanah air atau idealisme tertentu. Cap ini bikin mereka kerap dijauhi, baik di kalangan militer resmi maupun di tengah masyarakat biasa. Hidup mereka terasa terisolasi.
Jadi, pilihannya jelas: masuk ke dunia dengan legalitas abu-abu, menghadapi risiko kematian yang tinggi, dan menanggung stigma yang mungkin tak akan pernah hilang.
Kasus terbaru ini cukup menggemparkan. Seorang personel Brimob Polda Aceh, Bripda Muhammad Rio, memilih desersi dan kabur bergabung dengan tentara bayaran Rusia.
Dia mengaku langsung dapat pangkat Letnan Dua. Bonus awal bergabungnya mencapai 2 juta Rubel, atau sekitar Rp420 juta. Gaji bulanannya disebut-sebut sekitar Rp42 juta. Angka yang menggiurkan, tapi dengan taruhan yang tak kalah besarnya.
Artikel Terkait
Antusiasme Konser Mewah vs Realita 171 Juta Penduduk Miskin
SP3 Eggi-Damai: Instruksi Istana yang Mengabaikan Aturan Hukum
Khamenei Tuding AS dan Israel Dalang Kerusuhan, Janji Pertanggungjawaban
Gelar B.Sc. Gibran Picu Polemik Kelulusan SMA di Media Sosial