Memang, ada segelintir yang mencoba memahami ini sebagai pandangan pribadi yang subjektif. Tapi suara itu tenggelam oleh gelombang kecaman yang jauh lebih besar.
Intinya, publik meminta tokoh agama lebih berhati-hati. Isu bencana, keimanan, dan identitas daerah adalah hal yang sensitif. Perkataan yang terkesan gegabah bisa menyakiti korban dan keluarga mereka yang sedang berduka.
Hingga kini, perdebatan itu masih terus bergulir di timeline. Viralnya pernyataan ini menunjukkan betapa ruang digital kita masih rentan dengan narasi-narasi yang menyederhanakan persoalan kompleks. Semoga saja ada hikmahnya: kita jadi lebih bijak menyikapi setiap informasi, terutama yang menyangkut duka orang lain.
Artikel Terkait
Pasukan Oranye DKI Dikerahkan, 1.790 Personel Bersihkan Sampah Pasca-Banjir
Isra Mikraj di Era Digital: Ketika Logika Tak Mampu Menjawab
Bedah Buku di Bandung Guncang: Tuntutan Adili Jokowi dan Makzulkan Gibran Mengemuka
Dirjen Haji Panggil Sejumlah Biro, Dua Aduan Jemaah Tuntas Lewat Mediasi