Memang, ada segelintir yang mencoba memahami ini sebagai pandangan pribadi yang subjektif. Tapi suara itu tenggelam oleh gelombang kecaman yang jauh lebih besar.
Intinya, publik meminta tokoh agama lebih berhati-hati. Isu bencana, keimanan, dan identitas daerah adalah hal yang sensitif. Perkataan yang terkesan gegabah bisa menyakiti korban dan keluarga mereka yang sedang berduka.
Hingga kini, perdebatan itu masih terus bergulir di timeline. Viralnya pernyataan ini menunjukkan betapa ruang digital kita masih rentan dengan narasi-narasi yang menyederhanakan persoalan kompleks. Semoga saja ada hikmahnya: kita jadi lebih bijak menyikapi setiap informasi, terutama yang menyangkut duka orang lain.
Artikel Terkait
Persebaya dan Persib Bermain Imbang 2-2 dalam Laga Sengit di Surabaya
Jadwal Imsak dan Shalat di Medan Hari Ini, 3 Maret 2026
PSM Makassar Tumbang 2-4 dari Persita, Suporter Turun Lapangan Protes
Longsor di Jalur Bromo, Truk Terjun ke Jurang 50 Meter