Dalam sebuah pesan video yang disiarkan pekan lalu, Reza Pahlavi membuat pernyataan yang cukup berani. Putra mahkota Iran yang hidup di pengasingan itu secara resmi menyatakan, jika suatu hari nanti rezim di Tehran runtuh dan ia yang memimpin, ada dua hal besar yang akan dilakukannya: mengakui Israel dan menghentikan program nuklir militer negaranya.
Pernyataannya tanggal 15 Januari 2026 itu jelas bukan sekadar wacana. Disampaikan dalam bahasa Inggris, pesan itu ditujukan untuk audiens global, di tengah gelombang protes yang kembali mengguncang Iran sejak awal tahun. Banyak yang melihat ini sebagai langkah strategis untuk meraih dukungan, terutama dari kalangan tertentu di Washington.
Reza Pahlavi sendiri bukan nama baru. Dia adalah putra tertua dari Shah Iran terakhir, Mohammad Reza Pahlavi, yang digulingkan oleh revolusi 1979. Sejak meninggalkan Iran tahun 1978, pria ini tak pernah kembali. Kini ia menetap di AS, tepatnya di pinggiran Washington DC, bersama istri dan tiga anak perempuannya.
Lalu, apa saja poin konkret rencananya?
Artikel Terkait
Isra Mikraj di Era Digital: Ketika Logika Tak Mampu Menjawab
Bedah Buku di Bandung Guncang: Tuntutan Adili Jokowi dan Makzulkan Gibran Mengemuka
Dirjen Haji Panggil Sejumlah Biro, Dua Aduan Jemaah Tuntas Lewat Mediasi
Lagu-Lagu BTS yang Bisa Jadi Suntikan Semangat di Hari-Hari Lelah