Di Kecamatan Kalitengah, delapan desa terendam. Desa Jelakcatur dan Somosari termasuk yang parah, dengan ratusan rumah terendam. Fasilitas umum seperti sekolah dan tempat ibadah juga ikut tergenang. Hanya di Desa Gambuhan, genangan di jalan lingkungan dilaporkan mengalami peningkatan, sementara di lokasi lain statusnya stabil.
Kecamatan Turi juga tak kalah terdampak. Sepuluh desa dilaporkan kebanjiran, dengan Desa Putat Kumpul mencatat genangan di 231 rumah. Di sini, fasilitas pendidikan menjadi yang paling banyak terdampak dibanding jenis bangunan lainnya.
Selanjutnya, Kecamatan Karangbinangun. Delapan desa di sini terendam, dengan kerusakan meliputi rumah, jalan, dan sekolah. Di Kecamatan Deket, empat desa terendam dengan kedalaman genangan yang bervariasi. Desa Laladan jadi yang paling menderita, dengan 250 rumahnya terendam air.
Daerah lain yang cukup parah adalah Kecamatan Glagah. Sembilan desa di wilayah ini terendam. Desa Soko, contohnya, tidak hanya ratusan rumahnya yang kebanjiran, tapi juga tiga tempat ibadah, lima sekolah, puskesmas pembantu, dan kantor desa.
Sedikit bernapas lega, kondisi di Kecamatan Lamongan justru menunjukkan perbaikan. Statusnya sudah dinyatakan surut.
Kalau dihitung total kerugiannya, angka yang muncul cukup besar: 2.823 rumah terendam, 18 tempat ibadah, 76 sekolah, 4 puskesmas pembantu, dan 5 kantor desa ikut menjadi korban banjir ini. Situasinya memang belum pulih, tapi upaya penanganan darurat masih terus berjalan di lapangan.
Artikel Terkait
Isra Mikraj dan Ironi Ibadah di Tengah Krisis Moral Indonesia
Muara Baru Berbenah: 120 Petugas Dikerahkan untuk Atasi Gunungan Sampah
Amien Rais Sebut Dinasti Jokowi Tamat, Ijazah Palsu Jadi Pukulan Telak
Restorative Justice Diusulkan untuk Kasus Ijazah Palsu yang Libatkan Nama Jokowi