Sipir yang Menemukan Cahaya di Penjara Gelap Guantanamo
Ini bukan cerita fiksi. Kisah perjalanan Terry Holdbrooks menuju Islam terdokumentasi dengan baik. Anda bisa lacak lewat wawancaranya di The Guardian tahun 2009, bukunya sendiri, atau bahkan rekaman ceramahnya di King Fahad Mosque sekitar 2015. Intinya, ini bukti nyata. Hidayah ternyata bisa muncul dari tempat yang paling suram sekalipun bahkan dari sebuah penjara yang oleh sebagian orang disebut sebagai 'ketiak dunia'.
Musim panas 2003. Terry Holdbrooks baru berusia 19 tahun ketika dia tiba di Kamp Delta, Guantanamo Bay. Dia adalah tentara Amerika dari kesatuan Polisi Militer. Seorang ateis yang keras kepala. Gaya hidupnya khas anak muda yang suka hura-hura: musik rock keras, minuman beralkohol, tato, dan bebas dari aturan agama mana pun. Seperti kebanyakan rekannya, dia dijejali pemahaman bahwa para tahanan di sana adalah "monster terburuk": sopir pribadi Osama bin Laden, koki Al-Qaeda, orang-orang yang ingin membunuhnya.
Tugasnya sehari-hari terlihat biasa saja. Membersihkan, patroli blok sel, mengantar tahanan untuk diinterogasi. Tapi di balik rutinitas itu, sesuatu mulai mengganggu pikirannya.
Yang dia saksikan justru bertolak belakang dengan narasi yang dia terima. Para tahanan itu yang sering disiksa, diisolasi, dan dipermalukan tetap menjalankan shalat lima waktu dengan tekun luar biasa. Mereka membaca Al-Quran, berdzikir, dan yang paling membekas, mereka masih bisa tersenyum di tengah penderitaan.
Di sisi lain, para penjaga seperti dirinya sendiri justru terlihat gelisah, penuh amarah, dan jauh dari kata bahagia. Kontras itu menusuk. Terry mulai bertanya-tanya, "Kenapa mereka yang terkurung bisa tenang, sementara aku yang 'bebas' justru merasa hampa?"
Rasa penasarannya membawanya untuk mulai mengobrol. Salah satu tahanan yang sering dia ajak bicara adalah seorang pria Maroko bernama Ahmed Errachidi, yang dijuluki "The General" oleh sesama tahanan. Bukan karena dia teroris, tapi karena karisma dan pengetahuannya.
Ahmed sebenarnya cuma seorang koki. Dia ditangkap karena kesalahan identifikasi yang fatal, lalu disiksa bertahun-tahun sebelum akhirnya dibebaskan tahun 2007 setelah alibinya terbukti. Dari obrolan malam demi malam dengan Ahmed, Terry mulai melihat wajah Islam yang sama sekali berbeda. Bukan agama kekerasan seperti yang digambarkan media, melainkan ajaran tentang akhlak, ketabahan, dan kedekatan dengan Tuhan.
Artikel Terkait
ASN Indramayu Ditahan Usai Bantuan Pendidikan Rp1,4 Miliar Dikorupsi
Singapura Bukan Jatuh, Tapi Sedang Ganti Mesin Ekonomi
Isra Mi’raj: Titik Balik Spiritual yang Mengguncang Dunia
Bencana Sumatera Picu Ancaman Baru: Kemiskinan Nasional Melonjak