Perlahan, keyakinan lamanya mulai runtuh.
Puncaknya terjadi suatu malam di penghujung 2003 atau awal 2004. Dengan membawa selembar kertas dan pena, Terry mendatangi sel Ahmed. Dia meminta pria Maroko itu menuliskan dua kalimat syahadat beserta cara membacanya dalam huruf latin.
Lalu, di lantai Camp Delta yang dingin, di bawah kegelapan malam, Terry mengucapkan ikrarnya.
Dia memilih nama Mustafa Abdullah. Mustafa, yang berarti 'terpilih'. Abdullah, 'hamba Allah'.
Sejak momen itu, hidupnya berubah total. Alkohol ditinggalkan. Gaya hidup lamanya dia buang. Dia mulai shalat, berdzikir, dan menghafal Al-Quran. Para tahanan memanggilnya dengan nama barunya, tapi rekan-rekan sesama sipir justru marah besar. Dia dianggap pengkhianat. Dituduh bersimpati pada musuh. Bahkan dapat ancaman kekerasan. Banyak yang menjauh, beberapa menyebutnya 'pengkhianat ras' di dunia maya.
Terry meninggalkan Guantanamo tahun 2004. Setahun kemudian, dia keluar dari militer dengan status 'honourable discharge', didiagnosis mengalami gangguan kepribadian umum sebagian besar dipicu trauma berat dari apa yang dia saksikan di sana. Dia sempat jatuh lagi, mencoba melupakan segala kenangan buruk dengan mabuk-mabukan. Tapi akhirnya, dia kembali. Kembali ke Islam dengan lebih teguh daripada sebelumnya.
Sekarang, sebagai Mustafa Abdullah, dia menulis buku berjudul 'Traitor?'. Dia aktif berceramah, mengadvokasi penutupan Guantanamo, dan membela hak-hak Muslim yang sering difitnah. Trauma masa lalu masih sering datang lewat mimpi buruk. Tapi justru di situlah imannya menemukan pijakan yang paling kokoh.
Sebuah perjalanan spiritual yang dimulai dari tempat paling kelam. Dan itu nyata.
Artikel Terkait
Investasi Jawa Barat Tembus Rp 296,8 Triliun, Lampaui Target di 2025
Jejak Digital Fufufafa dan Chilipari: Benang Merah yang Mengarah ke Gibran?
Demokrasi di Ujung Tangan: Ketika Suara Rakyat Hanya Ditakar dari Beras dan Minyak
Lamongan Diperpanjang Status Tanggap Darurat, Genangan Air Belum Surut di Enam Kecamatan