Ketika Perasaan Perempuan Dianggap Gangguan, Bukan Fakta

- Minggu, 28 Desember 2025 | 08:06 WIB
Ketika Perasaan Perempuan Dianggap Gangguan, Bukan Fakta

Suara perempuan seringkali tak pernah benar-benar sampai. Bukan isinya yang bermasalah, tapi perasaannya selalu lebih dulu dihakimi. Coba lihat: saat dia bicara dengan nada bergetar, langsung dibilang lebay. Saat dia memilih diam, malah dicurigai tidak rasional. Terjebak di antara dua tuntutan itu, ruang untuk sekadar dimengerti pun sirna. Yang tersisa hanyalah penilaian.

Ini cerita lama sebenarnya. Warisan budaya yang terus dipelihara, diperkuat oleh kata-kata yang kita ucapkan sehari-hari. Perasaan perempuan kerap dianggap sebagai gangguan, sesuatu yang mengotori nalar jernih. Seolah-olah emosi itu cacat, bukan cara lain untuk memahami dunia.

Kita semua pasti pernah mendengar, atau malah mengucapkan, kalimat-kalimat seperti "jangan baperan" atau "logis dong, ah". Nah, coba ingat-ingat, hampir selalu kalimat itu ditujukan ke siapa? Fakta menariknya, perasaan dan logika itu bukanlah musuh. Mereka lebih seperti dua lensa berbeda untuk membaca realitas yang sama. Yang satu memberi kita ketajaman, satunya lagi memberi kepekaan.

Di sisi lain, sejarah patriarki yang panjang telah menciptakan standar berpikir yang kaku. Rasionalitas kering diagungkan, sementara emosi disingkirkan ke pinggir dan dicap sebagai kelemahan. Dalam skema ini, laki-laki dapat label 'rasional', perempuan dapat stempel 'perasa'. Hasilnya? Sebuah dikotomi yang tidak adil dan, jujur saja, sangat menyesatkan.

Lihat saja betapa banyak keputusan besar dari level pemerintah sampai perusahaan yang akhirnya gagal total. Penyebabnya? Seringkali karena mengabaikan unsur manusiawi, karena empati tidak dihitung. Kebijakan jadi dingin, manusia direduksi jadi sekadar angka. Padahal, nilai-nilai seperti kepedulian dan kepekaan, yang kerap dilekatkan pada perempuan, justru paling dibutuhkan di tengah dunia yang kian terpecah belah ini.

Dalam hubungan personal pun pola ini berulang. Ketika seorang perempuan mencintai dengan sungguh-sungguh, dia dianggap menuntut. Saat dia mengungkapkan kekecewaan, langsung dituduh suka drama. Padahal, masalahnya seringkali bukan pada perasaannya yang "berlebihan", tapi pada komunikasi yang timpang. Perempuan dipaksa menari mengikuti irama ekspresi yang bukan miliknya.

Media, mau tak mau, ikut bermain dalam melanggengkan narasi ini. Coba bandingkan: perempuan yang emosional jadi bahan berita sensasional, sementara kemarahan laki-laki dibungkus dengan kata "ketegasan". Tangisan dianggap lemah, amarah disebut wibawa. Bahasa media jelas tidak netral; ia membentuk persepsi kita tentang siapa yang pantas didengar dan siapa yang tidak.

Efeknya berbahaya. Banyak perempuan akhirnya meragukan perasaan mereka sendiri. Sejak kecil mereka diajari untuk 'mengecilkan diri' menahan tangis, meredam amarah, memfilter kata-kata. Hidup dengan keyakinan bahwa menjadi perempuan berarti harus terus-menerus membela dan menjelaskan apa yang dirasakan, seolah-olah itu adalah sebuah kesalahan.

Padahal, coba kita pikirkan. Perasaan itu sendiri adalah sebuah bentuk pengetahuan. Ia adalah alarm yang memberitahu ada yang tidak beres, ada ketidaknyamanan, atau ketidakadilan yang terjadi. Mengabaikan sinyal dari separuh populasi dunia sama saja dengan menutup mata dari separuh realitas yang ada.

Sudah saatnya kita berhenti mengulangi kesalahpahaman yang sama. Caranya bukan dengan memaksa perempuan agar sesuai dengan definisi 'logis' yang sempit itu. Tapi justru dengan memperluas pemahaman kita sendiri tentang apa itu logika. Logika tanpa empati itu apa sih? Hanya kalkulasi yang hampa.

Menghargai perasaan perempuan bukan berarti kita mengiyakan semua emosi tanpa batas. Ini lebih tentang pengakuan bahwa nalar dan perasaan bisa berjalan seiringan. Bahwa keberanian untuk merasa adalah bagian yang tak terpisahkan dari keberanian untuk berpikir jernih.

Jadi, ketika seorang perempuan berbicara dengan penuh perasaan, dia tidak sedang cari perhatian atau minta dikasihani. Dia sedang menyampaikan pengalamannya. Dan pengalaman, bagaimanapun ia disampaikan, tetaplah sebuah fakta. Fakta yang layak dapat tempat untuk didengar.

Kalau pola pikir usang ini terus kita pelihara, yang akan hilang bukan cuma suara perempuan. Tapi sesuatu yang lebih mendasar: kemanusiaan kita bersama. Karena dunia yang menertawakan perasaan adalah dunia yang, pelan-pelan, sedang kehilangan nuraninya sendiri.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar