Ego Harus Terkubur: Dahnil Ingatkan Petugas Haji Soal Pengorbanan Jemaah yang Jual Rumah Demi Baitullah

- Kamis, 15 Januari 2026 | 23:36 WIB
Ego Harus Terkubur: Dahnil Ingatkan Petugas Haji Soal Pengorbanan Jemaah yang Jual Rumah Demi Baitullah

Malam itu, di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, suasana tampak khidmat. Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, berdiri tegas memimpin apel malam. Acara itu bagian dari Diklat Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH), Kamis (15/1). Di hadapannya, lebih dari 1.600 calon petugas menyimak.

Dahnil punya pesan penting. Ia menilai, setelah hampir sepekan pelatihan berjalan, ego sektoral di antara para peserta mulai luntur. Namun begitu, ia mengingatkan lagi. "Ego itu harus benar-benar dikubur," tegasnya. Semua harus bersatu sebagai satu tim, satu keluarga besar petugas haji.

"Hari ini ego kelakuan saudara-saudara sekalian saya lihat sudah terkubur dalam. Sudah enggak ada itu yang ngaku orang sudah S3, dokter, profesor," ujar Dahnil dengan nada lugas.

Ia melanjutkan, "Jabatan-jabatan yang anda bawa dari luar itu hari ini terkubur. Kita semuanya berkumpul di sini sebagai satu keluarga. Yaitu keluarga petugas haji. Kanan kiri anda itu adalah petugas haji semuanya."

Pangkat dan gelar, menurutnya, tak lagi relevan di sini. Saat mengenakan seragam PPIH, mereka semua memikul amanah yang sama beratnya: mensukseskan ibadah haji 2026.

Untuk mengukuhkan amanah itu, Dahnil lalu bercerita. Pengalamannya berdialog dengan jemaah haji 2025, khususnya seorang lelaki bernama Tobroni asal Lampung Selatan.

"Saya tanya Pak Tobroni sudah ngantre haji berapa lama. Beliau menyampaikan beliau sudah mengantre dan akhirnya berangkat setelah 25 tahun," kisah Dahnil.

Perjuangannya tak berhenti di situ. Dahnil penasaran, dari mana Tobroni mendapat biaya.

"Beliau menjawab, saya membiayai setoran awal dulu dari menjual rumah. Jadi rumah pribadinya itu dijual," kata Dahnil menirukan.

Rumah itu laku. Uangnya dipakai beli rumah lebih kecil, bagi-bagi ke anak, dan sebagian untuk daftar haji. Tapi masalah muncul lagi saat dapat panggilan berangkat. Dana untuk pelunasan ternyata tak ada.

"Akhirnya rumah yang dia tempati itu dia jual lagi. Hasil penjualannya dia gunakan untuk pelunasan," ucap Dahnil.

Lantas Dahnil bertanya, nanti tinggal di mana setelah pulang haji?

Jawab Tobroni singkat. "Bang Dahnil saya sudah sepuh, sudah tua. Ya nanti setelah kembali dari haji, saya numpang dengan anak-anak."

Alasannya? Tobroni berbisik, "Mas dosa saya itu sudah terlalu banyak."

Jangan Khianati Pengorbanan Mereka

Berkaca dari cerita Tobroni itu, Dahnil suaranya bergetar. Ia meminta para petugas tak sekali-kali mengkhianati pengorbanan sedalam itu.

"Harapan dan mimpi ke tanah suci orang-orang seperti Pak Tobroni lah yang akan anda layani. Keinginan dan semangat spiritual orang-orang seperti Pak Tobroni lah yang akan anda jaga," serunya.

Ia bahkan tak sanggup membayangkan bentuk pengkhianatan itu. "Bagaimana jahatnya kita... kalau sampai tega menghianati orang-orang seperti Pak Tobroni. Untuk mengambil hak-hak mereka. Mengambil duit yang mereka perjuangkan sedemikian rupa."

Akhirnya, Dahnil menegaskan tiga amanah yang harus ditunaikan. Pertama, amanah dari Allah SWT sebagai pelayan tamu-tamu-Nya. Kedua, amanah dari jemaah seperti Tobroni. Dan ketiga, amanah dari negara yang wajib menjaga warganya beribadah dengan aman.

"Amanah dari jemaah haji ini harus kita tunaikan sebaik mungkin," pungkasnya. Suasana hening sejenak, sebelum apel malam itu ditutup.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar