Randu Raksasa Tuksongo: Bertahan atau Tumbang demi Keselamatan?

- Kamis, 15 Januari 2026 | 07:48 WIB
Randu Raksasa Tuksongo: Bertahan atau Tumbang demi Keselamatan?

Di Desa Tuksongo, Borobudur, sebuah pohon randu alas raksasa tiba-tiba jadi buah bibir. Usianya diperkirakan ratusan tahun, dan sempat hampir saja tumbang. Tapi, rencana penebangannya akhirnya diurungkan. Kini, nasibnya masih menggantung.

Pohon itu menjulang tinggi, lebih dari 30 meter. Bayangkan besarnya: delapan orang dewasa berpelukan pun mungkin belum cukup untuk merangkul batangnya. Sayangnya, kondisi fisiknya tak lagi prima. Tampak mengering, dengan beberapa ranting yang sudah dipangkas dan berserakan di tanah. Meski begitu, ia masih berdiri gagah di pinggir jalan raya dan lapangan desa.

Alasan warga awalnya mau menebangnya sederhana: rasa was-was. Pohon yang tampak mati itu dianggap ancaman, apalagi lokasinya strategis dan Tuksongo kerap didatangi wisatawan. Khawatirnya, kalau sampai tumbang, bisa berakibat fatal.

Namun begitu, sejarah pohon ini panjang dan berliku.

Tak ada yang tahu persis usianya, tapi dugaan kuat antara 200 hingga 300 tahun. Ashari bilang, sejak dia kecil pun pohonnya sudah sebesar ini. "Saya sudah nalar (besar) pohonnya sudah besar seperti ini," katanya.

Kepemilikannya punya cerita sendiri. Sekitar tahun 1990-an, pohon ini semula diwakafkan ke masjid, lalu hendak dijual pengurusnya. Harganya waktu itu Rp 900 ribu. Tapi sebagian masyarakat menolak, menganggap randu raksasa ini sebagai simbol desa. Akhirnya, jual-beli itu gagal. Status tanahnya pun campur aduk: separuh milik pribadi, separuh lagi milik desa.

Getah Merah dan Ulat yang Muncul

Saat pemangkasan, ada dua hal yang bikin geger. Pertama, munculnya ulat dari dalam ranting. Kedua, getah berwarna merah pekat yang mengalir, mirip darah, sampai ramai dibahas di media sosial.

Sekarang, warga seperti Ashari hanya bisa menunggu. Mereka menanti hasil kajian dari Pemerintah Kabupaten Magelang. Prinsipnya, soal keamanan harus jadi prioritas.

Intinya, warga boleh saja setuju pohon ini tetap berdiri. Asal, ada jaminan keamanan yang jelas. "Kalau bangunan bisa diperbaiki, kalau nyawa kan...," tambah Ashari, suaranya terhenti.


Halaman:

Komentar