Kini, Mang Den rutin berkeliling di sekitar Padalarang, tak jarang sampai ke kawasan KCIC. Omzetnya ternyata nggak main-main.
“Sehari dapat sekitar Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu,” ungkapnya.
Tapi, ya, ada saja tantangannya. Hasil jualan sangat bergantung pada cuaca. Kalau hujan, pembeli bisa sepi. Sebaliknya, di hari cerah, dagangannya sering ludes bahkan sebelum waktunya pulang. Bahan pun kadang kurang.
Reaksi orang-orang pun beragam. Banyak yang awalnya mengira ini cuma lelucon atau konten untuk media sosial belaka. Nyatanya, antusiasme masyarakat justru tinggi. Bahkan, antrean kerap terjadi.
“Bahkan ada yang berani bayar Rp 10 ribu sampai Rp 20 ribu hanya supaya duluan dilayanin. Saking banyak yang berminat,” ceritanya sambil tertawa geli.
Jadi, dari sekadar ide iseng di rumah, usaha cuanki mini Mang Den telah menjelma menjadi mata pencaharian yang serius. Cerita ini membuktikan satu hal: kreativitas, kalau dijalani dengan konsisten dan sepenuh hati, bisa membuka pintu rezeki dari arah mana saja. Bahkan dari sebuah gerobak yang muat di genggaman tangan.
Artikel Terkait
Enam Pak Ogah di Exit Tol Rawa Buaya Akhirnya Dibekuk
Buruh Serbu DPR dan Kemnaker, Tuntut UMP Jakarta Rp5,89 Juta
Warga Cipendawa Hadang Alat Berat, Tolak Proyek Panas Bumi di Gunung Gede
Di Tengah Gemerlap Dunia Maya, Hidup Biasa Justru Jadi Pilihan Paling Waras