Gelombang kritik kembali menghantam Pandji Pragiwaksono. Kali ini, Front Persaudaraan Islam (FPI) yang menyuarakan protes keras terhadap stand-up comedy terbarunya, "Mens Rea". Lewat sebuah surat pernyataan sikap yang beredar luas, Pandji dituding telah menistakan agama. Tuduhan itu bermula dari materi yang ia sampaikan, yang dianggap menyinggung soal cara memilih pemimpin dan ibadah salat.
Surat yang ditandatangani Ketum DPP FPI, Muhammad Alatas, itu tak main-main. Mereka mengecam keras siapa pun yang menjadikan simbol Islam sebagai bahan lelucon. Apalagi salat ritual yang sakral dan wajib bagi umat Islam. Menurut FPI, menjadikannya bahan tertawaan adalah bentuk penghinaan yang tak bisa ditoleransi.
Di sisi lain, FPI sebenarnya tak menampik hak Pandji untuk mengkritik pemerintah. Dalam kehidupan bernegara, kritik terhadap penguasa dianggap hal yang wajar. Namun begitu, yang disesalkan adalah cara penyampaiannya. Kritik itu, kata mereka, jadi ternoda karena dicampur dengan candaan yang menyentuh ranah ibadah.
“Sayangnya kritikan baik yang dilancarkan Pandji tercemari dengan ungkapan yang tidak lucu terkait dengan permasalahan salat yang merupakan fondasi penting dalam ajaran Islam,”
Bagi FPI, salat adalah fondasi. Ia tak boleh diolok-olok. Mereka berargumen, salat adalah salah satu penanda utama seorang muslim. Dengan materi itu, Pandji dinilai tak hanya mengabaikan ayat Al-Quran, tapi juga menghina sunnah Nabi Muhammad SAW.
“Tindakan Pandji yang memperolok preferensi memilih pemimpin yang rajin salat adalah bentuk penghinaan terhadap sunnah Nabi Muhammad SAW...”
Lebih jauh, analogi yang dibangun Pandji dalam materinya pun disorot. Pernyataannya yang menyamakan "rajin salat belum tentu baik" dengan "rajin belum tentu pintar" disebut sebagai kesesatan berpikir. Menurut FPI, analogi itu merendahkan nilai ibadah sekaligus menyesatkan publik. Begitu pula dengan perbandingan pilot dan pemimpin negara yang ia gunakan dianggap sebagai logika yang menyesatkan.
Maka, tuntutan pun diajukan. FPI meminta Pandji untuk segera bertobat nasuha, memohon ampun kepada Allah, dan minta maaf kepada umat Islam. Tak cuma itu, mereka juga akan mengawal proses hukum atas dugaan penistaan ini. Mereka mendesak penegak hukum bertindak sesuai aturan.
Permintaan lain juga ditujukan ke Netflix. Platform streaming itu diminta untuk menghapus, memotong, atau menyensor materi "Mens Rea" yang dianggap bermasalah. Seruan ini disampaikan dengan nada tegas.
“Bahwa diserukan kepada para komedian atau pelawak lainnya agar tidak menjadikan simbol-simbol maupun ajaran agama sebagai bahan untuk candaan dan olok-olok. Karena, kita hidup di negara yang berdasarkan Pancasila dimana agama dijunjung tinggi,”
Persoalannya kini merambah ke ranah yang lebih luas: di mana batas kebebasan berekspresi dan penghormatan pada keyakinan? Kasus Pandji ini sekali lagi menguji tegangan itu. Dan seperti biasa, publik menunggu respons berikutnya.
Artikel Terkait
Sidang Pailit PSM Ditunda, Manajemen Klub Absen di Pengadilan Niaga Makassar
BMKG Prediksi Cuaca Cerah Berawan di Makassar Sepanjang 18 April 2026
Diskominfo Tebing Tinggi Digeledah Polda Sumut Usai OTT Pejabat
Masyarakat Sipil Temui KWI, Soroti Krisis Moral dan Hukum dalam Tata Kelola Negara