Nah, kalau kasus Yaqut, polanya beda. Jauh berbeda. Para pembelanya cenderung homogen, seolah-olah hanya berasal dari kelompok atau kubu tertentu saja. Seakan ada satu frekuensi yang sama.
Yang lebih mencengangkan, meski ada akun-akun besar dari kelompok tersebut yang mencoba membela, dampaknya terasa minimal. Impresinya kecil, nyaris seperti percikan air di bara. Suaranya seolah tenggelam sebelum sampai ke telinga khalayak yang lebih luas.
Dan netizen sepertinya paham betul dengan semua ini. Mereka bisa melihat dengan jelas: mana kasus yang terkesan dikriminalisasi, dan mana yang dianggap sebagai "maling sejati". Begitulah kira-kira kesimpulan yang beredar.
Seperti yang diungkapkan dalam sebuah cuitan viral di platform X:
Cuitan itu, yang berasal dari akun @kafiradikalis pada 14 Januari 2026, seakan menyuarakan apa yang banyak dipikirkan orang di linimasa.
Artikel Terkait
Minang di Sekitar Istana: Dari Relawan Hingga Pembelaan di Tengah Kontroversi
Senator Papua Barat Daya Desak Prabowo: Stop Sawit, Orang Papua Tidak Suka!
Kerobokan Tergenang, Saluran Tak Mampu Hadapi Derasnya Hujan
Babinsa Mimika Jadi Pelindung di Zebra Cross Saat Jam Sekolah