Di Desa Tuksongo, Kabupaten Magelang, sebuah pohon randu alas raksasa menjadi pusat perhatian. Bukan cuma karena ukurannya yang luar biasa, tapi juga karena nasibnya yang sempat di ujung tanduk. Rencana penebangannya yang ramai diperbincangkan akhirnya diurungkan, setidaknya untuk sementara. Di tengah situasi itu, seorang seniman lokal memilih untuk mengabadikannya dengan caranya sendiri.
Hatmojo, namanya. Ia tinggal tak jauh dari pohon ikonik itu. Dengan peralatan lukisnya, ia langsung bekerja di lokasi, menangkap sosok randu alas itu di atas kanvas.
"Konsep dasarnya sederhana: keharuan. Waktu dengar kabar pohon ini mau ditebang, saya sedih. Ini kan kebanggaan kami, bahkan mungkin kebanggaan Magelang," ujar Hatmojo di rumahnya, Rabu lalu.
Rasa sayangnya pada pohon itu jelas terasa. Ia pun terus berpikir, adakah cara lain selain menebangnya begitu saja?
"Intinya jangan sampai habis ditebang. Kalau pun nanti benar-benar harus diturunkan, setidaknya sisakan sekitar lima meter batangnya. Biar jadi monumen sejarah," katanya.
Baginya, pohon ini punya cerita panjang. Paling tidak, ia sudah jadi ikon dan branding desa selama bertahun-tahun.
"Harusnya ada upaya lain. Paling tidak, ya, penanaman kembali sebagai pengganti," tambahnya.
Kesedihan itu akhirnya ia tuangkan lewat lukisan. Ia ingin merekam momen-momen terakhir pohon itu, sebelum keputusan final diambil.
"Saya fokus mendokumentasikannya. Ini akan jadi arsip pribadi saya," tutur Hatmojo.
Rencananya, ia tak cuma melukis di tempat. Ia berencana membuat pameran khusus.
"Karya ini akan jadi seri. Seri 'sebelum' dan 'sesudah'. Apakah nanti pohonnya dipotong, rantingnya saja, atau malah tetap utuh," jelasnya.
Suara dari Balai Desa
Lalu, bagaimana penjelasan resmi dari pihak desa? Kepala Desa Tuksongo, M Abdul Karim, angkat bicara menanggapi polemik yang sempat memanas ini.
"Kami punya pohon randu alas yang jadi ikon Tuksongo. Sempat ramai soal rencana penebangannya," kata Karim membuka percakapan.
"Sebenarnya, kami di pemerintah desa dan masyarakat juga tidak ingin menebang. Harapannya sih pohon itu tetap kokoh dan hidup."
Namun begitu, kenyataan di lapangan berkata lain. Menurut pengamatan warga, kata Karim, pohon itu kondisinya sudah mati. Kulit batangnya mengelupas, suatu hal yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Sebelum kesepakatan menebang muncul, desa sudah berusaha. Tim ahli dari DLH sempat didatangkan untuk mengobati pohon, sayangnya upaya itu gagal.
"Seiring waktu, ranting-rantingnya makin rapuh saja," jelas Karim.
Beberapa kali bahkan ada kejadian ranting jatuh, menimpa bangunan di sekitarnya. Posisinya yang persis di samping jalan dan dekat lapangan dinilai membahayakan warga dan pengguna jalan.
"Akhirnya kami musyawarah. Sempat mengajukan surat ke PU dan DLH, tapi mereka bilang itu bukan kewenangannya. Mereka juga sepertinya hati-hati, soalnya pohon berusia ratusan tahun, takut melanggar aturan. Mereka cuma sanggup bantu alat kalau penebangan benar-benar dilakukan," paparnya panjang lebar.
Masalah lain muncul saat pemangkasan: dari dalam kayu terlihat ulat-ulat, yang dikhawatirkan memperparah kerapuhan. Padahal, diameter rantingnya saja bisa mencapai 2,5 meter.
"Alat penebangan yang ada juga dianggap belum memadai dan berisiko untuk rumah-rumah warga di sekitarnya. Akhirnya kami tunda dulu," bebernya.
Di sisi lain, desa mendapat tekanan dari beberapa organisasi luar yang menolak penebangan. Kabar ini sampai ke telinga Bupati Magelang, yang lantas menyarankan penundaan.
"Bapak Bupati menyarankan ditunda dulu. Mau dikaji ulang oleh tim ahli dari kabupaten," ucap Karim.
Sekarang, nasib pohon randu alas itu sepenuhnya bergantung pada hasil kajian itu. Akan ditebang, dipangkas, atau dibiarkan saja?
"Harapan kami, kalau bisa diselamatkan, ya syukur. Tapi kalau sudah tidak memungkinkan, kami harus ambil sikap tegas. Keselamatan dan keamanan lingkungan itu yang utama," tegasnya.
Jangan sampai, kata Karim, rasa sayang pada sesuatu justru membawa dampak buruk. Apalagi Tuksongo adalah desa yang kerap disinggahi wisatawan. Semuanya butuh keseimbangan.
Artikel Terkait
Davide Ancelotti Resmi Ditunjuk sebagai Pelatih Kepala Lille untuk Musim 2026/2027
AS Monaco Resmi Aktifkan Opsi Pembelian Ansu Fati dari Barcelona Senilai 11 Juta Euro
James Milner Pensiun di Usia 40 Tahun, Tutup Karier 24 Musim dengan Rekor 658 Laga di Premier League
Kemenag Sembelih 12 Sapi dan 6 Kambing, Salurkan 1.200 Paket Daging Kurban serta Santunan Anak Yatim