Di Desa Tuksongo, Kabupaten Magelang, sebuah pohon randu alas raksasa menjadi pusat perhatian. Bukan cuma karena ukurannya yang luar biasa, tapi juga karena nasibnya yang sempat di ujung tanduk. Rencana penebangannya yang ramai diperbincangkan akhirnya diurungkan, setidaknya untuk sementara. Di tengah situasi itu, seorang seniman lokal memilih untuk mengabadikannya dengan caranya sendiri.
Hatmojo, namanya. Ia tinggal tak jauh dari pohon ikonik itu. Dengan peralatan lukisnya, ia langsung bekerja di lokasi, menangkap sosok randu alas itu di atas kanvas.
Rasa sayangnya pada pohon itu jelas terasa. Ia pun terus berpikir, adakah cara lain selain menebangnya begitu saja?
Baginya, pohon ini punya cerita panjang. Paling tidak, ia sudah jadi ikon dan branding desa selama bertahun-tahun.
Kesedihan itu akhirnya ia tuangkan lewat lukisan. Ia ingin merekam momen-momen terakhir pohon itu, sebelum keputusan final diambil.
Rencananya, ia tak cuma melukis di tempat. Ia berencana membuat pameran khusus.
Suara dari Balai Desa
Lalu, bagaimana penjelasan resmi dari pihak desa? Kepala Desa Tuksongo, M Abdul Karim, angkat bicara menanggapi polemik yang sempat memanas ini.
Artikel Terkait
Indonesia Tawarkan Mediasi, Serukan Deeskalasi Usai Serangan AS-Israel ke Iran
AS dan Israel Lancarkan Serangan Langsung ke Iran, Timur Tengah di Ambang Konflik Terbuka
Tiga Eks Kapolres Alami Rotasi dalam Mutasi Polri Akhir Februari 2026
IKA Unhas Gelar Buka Puasa Bersama, Amran Sulaiman Diharapkan Jadi Orang ke-2 di RI