Di Desa Tuksongo, Kabupaten Magelang, sebuah pohon randu alas raksasa menjadi pusat perhatian. Bukan cuma karena ukurannya yang luar biasa, tapi juga karena nasibnya yang sempat di ujung tanduk. Rencana penebangannya yang ramai diperbincangkan akhirnya diurungkan, setidaknya untuk sementara. Di tengah situasi itu, seorang seniman lokal memilih untuk mengabadikannya dengan caranya sendiri.
Hatmojo, namanya. Ia tinggal tak jauh dari pohon ikonik itu. Dengan peralatan lukisnya, ia langsung bekerja di lokasi, menangkap sosok randu alas itu di atas kanvas.
Rasa sayangnya pada pohon itu jelas terasa. Ia pun terus berpikir, adakah cara lain selain menebangnya begitu saja?
Baginya, pohon ini punya cerita panjang. Paling tidak, ia sudah jadi ikon dan branding desa selama bertahun-tahun.
Kesedihan itu akhirnya ia tuangkan lewat lukisan. Ia ingin merekam momen-momen terakhir pohon itu, sebelum keputusan final diambil.
Rencananya, ia tak cuma melukis di tempat. Ia berencana membuat pameran khusus.
Suara dari Balai Desa
Lalu, bagaimana penjelasan resmi dari pihak desa? Kepala Desa Tuksongo, M Abdul Karim, angkat bicara menanggapi polemik yang sempat memanas ini.
Artikel Terkait
Kuasa Hukum Roy Suryo Sebut Manuver Eggi Sudjana Justru Perkuat Soliditas Tim
Jembatan Sarinah Dibongkar Pasang, Nanti Integrasi Langsung dengan Halte TransJakarta
Nenek 80 Tahun Diperiksa 4 Jam, Ungkap Kejanggalan Peralihan Tanah dalam Hitungan Hari
Nilai Matematika 36,10: Alarm Keras bagi Pondasi Nalar Pendidikan Indonesia