"Sembilan puluh juta warga Iran siap bergerak melawan AS dan Israel jika ada intervensi," tegasnya.
Kepala Dewan Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani, bahkan bersikap lebih blak-blakan. Menurutnya, Donald Trump itu "terlalu banyak bicara" dan tak perlu dipusingkan.
"Kalau AS mau menyerang, Iran akan membalas. Sesederhana itu," katanya.
Menteri Luar Negeri Iran juga tak kalah keras. "Iran siap berperang. Kalau AS mau menguji kami, silakan coba," ujarnya dalam pernyataan terbaru.
Retorika panas seperti ini menunjukkan tensi sedang memuncak. Kalau AS nekat intervensi militer, perang total di kawasan itu hampir tak terelakkan.
Sebenarnya, Trump dan Netanyahu paham betul bahwa menjatuhkan pemerintahan Iran sama dengan membakar seluruh wilayah. Tapi bagi Israel, momentum ini mungkin jadi kesempatan terakhir untuk menarik AS sepenuhnya ke dalam konflik. Soalnya, kalau Trump sudah lengser, hampir mustahil ada pemimpin AS lain yang berani menyerang Iran.
Netanyahu dianggap memanfaatkan kepemimpinan AS yang saat ini diisi oleh figur-figur kontroversial. Dari sudut pandang psikologi politik, dia tahu persis cara bermain catur di lingkaran elit Washington.
Iran pun tak tinggal diam. Mereka sudah menghubungi negara-negara tetangga, mengingatkan bahwa bantuan apa pun kepada AS atau Israel dalam intervensi militer akan dibalas dengan serangan tanpa pandang bulu. Pesan khusus juga disampaikan ke Irak: jaga perbatasan ketat, jangan sampai milisi bersenjata AS disusupkan ke wilayah Iran.
Sementara itu, langkah Trump menaikkan tarif dagang 25% untuk negara yang berbisnis dengan Iran adalah sinyal lain. Agaknya, AS mulai berpikir jalur militer terlalu berisiko, maka mereka kembali ke strategi lama: lewat tekanan ekonomi untuk melemahkan Tehran.
Eskalasi ini diprediksi akan mencapai puncaknya dalam waktu dekat. Situasinya dinamis sekali. AS dan Israel terus memantau kondisi riil di Iran. Kalau pemerintah Iran bisa bertahan kali ini, maka ke depannya akan semakin sulit bagi mereka untuk menjatuhkan rezim tersebut.
(Tengku Zulkifli Usman)
Artikel Terkait
Saksi Sahroni: Saya Tidak Korupsi, Tapi Dijarah Rp 80 Miliar
Presiden Prabowo Kagumi Bocah Komandan PBB, Langsung Beri Beasiswa Polisi
Wisuda Tertunda, Program Residen Ditutup: Eksploitasi Dana Picu Sanksi Keras di Unsri
Bayi Lima Bulan Terkunci Sendirian, Damkar Balikpapan Buru-buru Naik Motor