Pidato Berbahasa Inggris Siswa Bekasi Bikin Prabowo Terkesima di Peresmian Sekolah Rakyat

- Rabu, 14 Januari 2026 | 10:42 WIB
Pidato Berbahasa Inggris Siswa Bekasi Bikin Prabowo Terkesima di Peresmian Sekolah Rakyat

Momen itu benar-benar tak terlupakan. Berdiri di depan Presiden Prabowo Subianto dan berpidato menggunakan Bahasa Inggris, M. Kiendra Lian Damarta, siswa kelas 10 SMRA 13 Bekasi, jelas punya cerita yang luar biasa. Semuanya terjadi saat peresmian 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin lalu.

Dan pujian datang langsung dari orang nomor satu. Prabowo sendiri yang menyebut Kiendra fasih berbahasa Inggris, seolah-olah pernah lama tinggal di luar negeri.

"Senang, happy," ujar Kiendra ketika ditanya perasaannya usai pidato.

Tapi tentu saja, kepercayaan diri yang ditunjukkannya bukan datang begitu saja. Butuh proses panjang, lebih dari empat bulan, dengan bimbingan intensif dari guru-gurunya di Sekolah Rakyat. Awalnya, semuanya terasa canggung. Kiendra mengaku sama sekali tak bisa.

"Tapi lama-lama, sama guru aku Pak Azis, Beliau membantu aku dalam berpidato. Dan akhirnya aku bisa," tuturnya.

Di sisi lain, apresiasi Presiden tak berhenti di situ. Dalam sambutannya, Prabowo terlihat terkesima.

"Saya terkesima hari ini, terus terang saja. Bisa ada anak yang pidatonya bisa dalam beberapa bahasa, luar biasa," katanya.

Bahkan, ia membuka peluang bagi siswa berprestasi di Sekolah Rakyat untuk bisa belajar ke luar negeri. Kiendra sendiri berharap program ini terus berjalan, menjangkau lebih banyak anak dari keluarga yang kurang mampu di berbagai penjuru daerah.

Tak Ada Perundungan, Semua Teman

Di Banjarbaru, antusiasme juga terpancar dari Kirana Ali Ajahra, siswi kelas 7B. Kehadiran Presiden di sekolahnya adalah momen yang membahagiakan.

"Senang banget, karena Pak Presiden berkunjung ke sini itu buat kami bahagia banget," ujar Kirana.

Bagi Kirana, Sekolah Rakyat adalah tempat yang aman. Tak ada ruang untuk perundungan atau pengelompokan berdasarkan latar belakang. Semua berteman, apa adanya.

"Asyik dan menyenangkan, tak ada kata pembulian... Semuanya berteman mau bagaimana pun orangnya," tuturnya.

Hidup di asrama membentuknya disiplin. Bangun pukul empat pagi, lalu mandi, salat, bersih-bersih kamar, dan bersiap ke sekolah. Rutinitas yang teratur ini memberinya fondasi.

Datang dari keluarga sederhana, bahkan yatim, Kirana melihat Sekolah Rakyat sebagai pintu harapan. Cita-citanya lugas: jadi orang sukses. Pesannya untuk Presiden pun tulus.

"Bapak jangan stop ya. Sekolah Rakyat ini membantu kami yang orang biasa, yang sederhana, yang tidak mampu... Makasih ya Bapak sudah mengadakan Sekolah Rakyat," kata Kirana.

Jadi Rumah Baru

Ceritanya lain lagi dengan Anisa Saharia yang berusia 15 tahun. Gadis asal Kupang, NTT, ini punya latar belakang hidup yang tak mudah. Ayahnya wafat saat ia masih kecil, ibunya menikah lagi dan merantau. Ia tinggal dengan kakaknya.

Uniknya, di SRMP 19 Kupang, Anisa adalah satu-satunya siswi Muslim dan berhijab. Dari 100 siswa, 86 Protestan, 13 Katolik, dan hanya dirinya yang Islam. Tapi justru di sini, ia belajar tentang toleransi.

Dulu, Anisa sering minder. Tubuhnya yang lebih besar membuatnya jadi bahan ejekan. Ia pendiam, suka memendam perasaan. Saat pertama masuk Sekolah Rakyat, kegugupan itu kembali.

"Perasaan Anissa saat masuk gugup. Tapi sesudah beberapa bulan, Anissa sudah berani. Karena sudah mempunyai teman yang banyak," ujarnya.

Lingkungan yang melarang perundungan memberinya ruang untuk percaya diri. "Di sini dilarang membully. Jadi saya mulai percaya diri," katanya.

Meski salat sendirian di musala, ia tak merasa dikucilkan. Malah, teman-temannya penasaran dan mau ikut. Namun, ada saat-saat yang berat. Seperti saat jadwal kunjungan orang tua. Melihat teman-teman dipeluk keluarga, hatinya perih.

"Kayak kawan-kawan dipeluk, Anisa tidak dapat dipeluk orang tua... Anissa ingin dipeluk," ucapnya sambil terisak.

Namun begitu, Anisa bersyukur. Di Sekolah Rakyat, semua kebutuhannya terpenuhi: asrama, seragam, perlengkapan sekolah, dan makanan yang layak gratis.

"Di sini makannya enak, kayak makan daging. Kalau di rumah makan apa adanya," ujarnya.

Harapannya sederhana: jadi anak yang berhasil dan membanggakan keluarga. Ia berterima kasih pada Presiden Prabowo.

"Terima kasih Bapak Prabowo... Saya doakan Bapak Presiden sehat selalu," katanya.

Bagi Anisa, dan mungkin banyak siswa lainnya, Sekolah Rakyat lebih dari sekadar tempat belajar. Ini adalah rumah baru. Sebuah program yang didedikasikan negara untuk memutus mata rantai kemiskinan ekstrem lewat pendidikan. Dengan sistem asrama penuh yang ditanggung negara, anak-anak dari keluarga paling membutuhkan mendapat kesempatan untuk mengubah nasib mereka sendiri.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar