Kalau terus begini, kesannya aparat intelijen cuma jadi figuran. Negara seolah digerakkan oleh intuisi semata. Dan intuisi, sehebat apa pun, bukanlah dasar kebijakan yang solid.
Masalah sebenarnya bukan pada kata “curiga” itu sendiri. Efeknyalah yang perlu diwaspadai. Coba bayangkan Anda naik pesawat. Pilot tiba-tiba mengumumkan, “Penumpang sekalian, saya curiga mesin kiri ada yang aneh.”
Tanpa penjelasan lebih lanjut. Tanpa solusi. Apa yang Anda rasakan? Pasti bukan ketenangan, melainkan kecemasan kolektif.
Negara pun mirip. Ketika presiden sering terdengar curiga, publik ikut waswas. Stabilitas psikologis bangsa perlahan berubah jadi mode siaga tanpa arah yang jelas. Gimana mau tenang, kalau pemimpinnya sendiri terlihat selalu ragu?
Pada akhirnya, negara hidup dari kepastian. Bukan dari firasat. Rasa curiga dan kewaspadaan itu penting, tapi rakyat butuh kejelasan: apa masalahnya, siapa yang bertanggung jawab, dan bagaimana jalan keluarnya.
Kalau tidak, yang tumbuh subur bukan kedamaian, melainkan spekulasi. Dan sebuah negara yang dipenuhi spekulasi, seringkali bukan karena rakyatnya yang terlalu kritis. Tapi karena pimpinannya terlalu sering berujar, “Saya curiga…”
-Setiya Jogja-
Artikel Terkait
Empat Pelajar SMP Ketapang Digerebak Saat Pesta Sabu Palsu
Video Sinkronisasi Tentara Turki yang Viral, Tembus 10 Juta Tayangan
Jalur Sepeda Sudirman-Thamrin Kembali Jadi Jalan Pintas Motor
Antrean Truk Berebut Solar Akan Jadi Kenangan pada 2026