Menurut data Indeks Masyarakat Digital Indonesia 2024, angka yang terungkap cukup mencengangkan: 81% masyarakat yang disurvei mengaku mengalami kendala dalam memanfaatkan platform digital. Data ini jelas jadi lampu kuning. Ia memaksa kita untuk berpikir ulang: layanan mana yang tepat didigitalisasi, dan di mana sentuhan manusiawi justru tak boleh hilang.
Memanusiakan Teknologi, Bukan Sebaliknya
Pada akhirnya, teknologi seharusnya jadi alat pemersatu, bukan pencipta jarak. Pandangan saya, esensi pelayanan publik adalah merangkul semua kalangan. Artinya, kita tidak bisa serta-merta menghapus unsur manusia di balik layar dan kode. Jika teknologi diterapkan tanpa empati, yang muncul justru citra buruk bagi instansi. Masyarakat akan merasa ditinggalkan.
Jadi, kuncinya adalah humanisasi. Layanan yang efektif harus dimulai dari memahami kondisi riil masyarakat. Teknologi hadir untuk memudahkan semua pihak, bukan hanya segelintir yang melek digital. Harapannya, instansi bisa lebih jeli. Berikan kemudahan dengan teknologi, tapi tetap pertimbangkan wajah-wajah yang mungkin kebingungan di seberang layar. Bagaimanapun, pelayanan yang baik adalah yang bisa dirasakan oleh semua.
Artikel Terkait
Bagnaia Gagal Lolos Q2, Bezzecchi Kuasai Pole MotoGP Thailand 2026
Kekecewaan Cinta Diduga Jadi Pemicu Penganiayaan Mahasiswi UIN Suska Riau
43 WNI di Afghanistan Dinyatakan Aman Meski Konflik dengan Pakistan Memanas
Veda Pratama Lolos Langsung ke Q2 Moto3 di Seri Perdana Thailand