Suasana Taman Kota Cawang di Jakarta Timur pada Sabtu (28/2) lalu tampak berbeda. Beberapa petugas dari Suku Dinas Pertamanan dan Hutan Kota sibuk memangkas dahan-dahan pohon yang sudah terlampau tinggi dan rimbun. Aksi ini bukan sekadar perawatan rutin. Menurut pengakuan pihak berwenang, langkah itu diambil sebagai respons cepat setelah muncul laporan tentang aktivitas asusila di dalam taman, khususnya yang melibatkan sesama laki-laki.
Iwan Sulaiman, Pengawas Hutan Kota setempat, menjelaskan situasinya.
"Kami dari tim Sudin dan Hutan Kota Jakarta Timur melakukan pemangkasan terhadap pohon-pohon yang terlalu rindang," ujarnya saat ditemui di lokasi.
Ia menambahkan, pembersihan vegetasi itu bukan satu-satunya upaya. Untuk membuat area itu tidak lagi gelap dan sepi, kini telah dipasang lampu tembak.
"Ada dua titik di hutan kota ini yang dipasangi lampu dari pihak Kelurahan Kebon Pala. Tujuannya jelas, menerangi Hutan Kota Cawang agar tidak ada lagi aktivitas LGBT di sini," tegas Iwan.
Di sisi lain, fakta di lapangan seolah mengiyakan kekhawatiran tersebut. Pada hari yang sama, peliputan di dalam taman menemukan sejumlah bukti yang cukup mengganggu. Barang-barang itu berserakan di antara pepohonan dan semak.
Dekat sebuah pohon besar, misalnya, tergeletak bungkusan alat kontrasepsi yang masih tersegel. Beberapa langkah dari sana, ada kemasan gel pelumas bekas pakai dan beberapa bungkus tisu 'magic' dengan merek yang berbeda-beda. Kondisi lokasinya sendiri terlihat kotor dan tak terawat.
Yang lebih parah, di antara tumpukan ranting dan daun kering, ditemukan kondom bekas pakai. Sementara di balik batang pohon yang patah, dua botol minuman keras berisi separuh masih terbuka tutupnya. Temuan terakhir yang cukup mencolok adalah kemasan suplemen penambah stamina pria yang kosong. Semua barang itu seperti meninggalkan cerita kelam tentang apa yang benar-benar terjadi di balik kerimbunan taman kota itu.
Sebenarnya, upaya penertiban sudah dimulai sebelumnya. Akses masuk ke taman di kawasan Cawang itu bahkan sudah ditutup permanen sejak Jumat (27/2) karena kuat dugaan lokasi tersebut dipakai untuk prostitusi sesama jenis. Penutupan dua titik akses itu dilakukan lelangsung oleh Pemerintah Kota Jakarta Timur bersama sejumlah instansi.
Camat Makasar, Dimas Prayudi, yang hadir saat penutupan, memberikan penjelasan.
"Ada dua titik yang hari ini kita coba tutup secara permanen dengan pengecoran, bekerja sama dengan Suku Dinas Pertamanan dan Hutan Kota," kata Dimas.
Menurutnya, pihaknya mendapat informasi soal penyalahgunaan fungsi taman. Saat diperiksa, ternyata ada celah di pagar yang sering dipakai untuk masuk secara tidak resmi. Celah itulah yang kini ditutup rapat, sebagai upaya awal mengembalikan fungsi taman sebagai ruang publik yang sehat.
Artikel Terkait
Ibas Soroti Potensi Ekonomi dan Tantangan Industri Kreatif di Forum Museum Nasional
Empat Kandidat Juara Liga Champions 2026 Siap Bertarung di Babak Semifinal
Wamen Dalam Negeri: Program Strategis Nasional Harus Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Mendagri Beri Tenggat Satu Pekan untuk Pendataan Huntap Korban Bencana Sumatera