Kalau lewat, mungkin Kantin Ibu Tatang di Sekeloa, Bandung, cuma terlihat seperti warung makan biasa. Tapi coba tanya pada para mahasiswa atau pekerja di sekitar Dipati Ukur. Tempat ini bukan sekadar tempat isi perut. Sudah berdiri sejak tahun 90-an, warung ini menyimpan segudang cerita dan kenangan.
Dulu, menunya terbilang lengkap. Gepuk, ayam bakar, sampai sop iga tersaji. Menu itu sengaja disesuaikan karena pelanggan setianya kala itu banyak dosen dan mahasiswa S2 dari kampus-kampus elite sekitarnya.
"Warung ini teh deket sama kampus Unpad, ITB, sama Unikom. Sama paling ya karyawan kantor sekitar Dipati Ukur yang dateng ke sini,"
kata Dede, anak Ibu Tatang yang kini ikut mengelola warung, suatu Selasa siang.
Namun begitu, zaman berubah. Pelanggan mayoritas kini adalah mahasiswa S1 yang masih mengandalkan kiriman orang tua. Otomatis, menunya pun beradaptasi. Kini yang tersaji lebih sederhana: ayam goreng, ikan mas atau nila, tempe mendoan, perkedel jagung, plus telur dadar isi daging yang jadi favorit banyak anak kuliahan.
Ritme hariannya pun tetap sama. "Kita bukanya dari jam 8 pagi sampai jam 2 siang. Mulai masak dari jam 6, jadi dateng dari pasar jam 6 terus kita olah di sini langsung," tutur Dede menjelaskan kesibukan pagi mereka.
Di sisi lain, daya tarik warung ini bukan cuma soal makanannya. Suasananya yang seperti rumah sendiri itu yang bikin betah. Kedekatan personal sengaja dijaga, bahkan sejak puluhan tahun lalu.
"Kita di sini kaya rumah sendiri aja, ada mahasiswa yang makan dulu bayarnya nanti setelah dapet kiriman dari orang tua. Makanya kan yang udah alumni-alumni teh dateng lagi ke sini bawa anaknya yang ternyata kuliahnya di sekitar sini juga,"
cerita Dede sambil tersenyum. Praktik kepercayaan seperti itu memang langka di zaman sekarang.
Harganya? Sangat bersahabat untuk kantong mahasiswa. Cuma Rp 10 ribu sampai Rp 30 ribu saja sudah dapat paket lengkap. Wajar kalau pelanggan terus berdatangan, silih berganti.
Tanya soal omzet, Dede enggan berdetail-detail. Yang penting, katanya, mereka selalu bersyukur dengan rezeki yang didapat setiap harinya.
Bukti kesetiaan pelanggan bisa langsung dilihat. Seperti Alya dan Rian yang ditemui di sana. Meski sudah bekerja, mereka masih sering mampir. Rian, alumni ITB, mengaku warung ini adalah solusi andalan saat lapar melanda.
"Karena sering ke sini jadi tahu," ujarnya singkat.
Pendapat serupa diungkapkan Alya. "Penyelamat dalam dompet kering gitu kan. Kayak waktu itu kita makan banyak sih, kayak ngambil lauknya, nasinya dikasih sebakul kan cocok banget lah pokoknya,"
katanya sambil tertawa.
Bertahan lebih dari tiga puluh tahun tanpa ekspansi atau buka cabang, pencapaian Kantin Ibu Tatang sebenarnya sederhana. Mereka tak cuma jual makanan rumahan, tapi juga menciptakan rasa hangat sebuah rumah bagi para perantau. Warung kecil ini membuktikan, resep paling ampuh untuk bertahan lama ternyata sederhana: ketulusan dan kehangatan. Itu saja.
Artikel Terkait
Nottingham Forest Kandaskan Porto, Lolos ke Semifinal Liga Europa
Aston Villa Hancurkan Bologna 4-0, Lolos ke Semifinal Liga Europa
Prabowo dan KSAD Bahas Capaian TNI AD: 300 Jembatan dan Renovasi Sekolah Tuntas dalam Tiga Bulan
IHSG Melemah Tipis ke 7.621, Tekanan Jual Masih Membayangi