Dari Panggung Komedi ke Kisah Bahlul: Sindiran sebagai Senjata Kritik

- Selasa, 13 Januari 2026 | 08:20 WIB
Dari Panggung Komedi ke Kisah Bahlul: Sindiran sebagai Senjata Kritik

Ketika Bahlul Berhadapan dengan Istana

Banyak kisah menempatkan Bahlul di era Khalifah Harun ar-Rasyid. Ia bukan ulama istana, bukan pejabat. Ia figur di luar sistem. Justru karena dianggap "tidak waras", ia bebas bicara apa saja.

Konon, ia pernah menegur sang Khalifah soal kefanaan dunia. Istana megah ia sindir hanya sebagai "rumah sementara". Teguran semacam itu tentu berisiko besar bila diucapkan menteri atau ulama. Tapi aman saja keluar dari mulut seorang yang dicap "gila".

Abu Hayyan at-Tauhidi menyebut fenomena ini sebagai tradisi zuhhad mutamajjinin: para zahid yang berpenampilan aneh untuk menjaga jarak dari gemerlap kekuasaan.

Riwayat Sejarah atau Kisah Hikmah?

Di titik ini, kita perlu jernih. Tidak semua kisah Bahlul adalah riwayat sejarah bersanad ketat. Sebagian besar sifatnya adabiyyah cerita sastra yang mengandung pelajaran moral, bukan dasar hukum.

Ibnu al-Jauzi sendiri tak mengklaim semua kisah dalam bukunya sebagai fakta historis. Tujuannya sederhana: menunjukkan bahwa "tidak setiap orang yang tampak bodoh itu benar-benar bodoh."

Maka, para ulama memandang kisah Bahlul lebih sebagai cermin kritik sosial, bukan dalil syariat.

Lalu, Kenapa di Indonesia Maknanya Jadi Negatif?

Ini yang menarik. Di Indonesia, makna "Bahlul" tereduksi jadi negatif. Konteks sejarah dan bahasanya terputus. Yang tersisa cuma lapisan luarnya: kelakuan aneh dan lucu. Sementara intinya kecerdasan, keberanian moral, dan sikap kritis justru hilang.

Padahal, dalam tradisi klasik, menyebut seseorang "Bahlul" bisa berarti ia cerdas, tapi memilih selamat dengan cara berpura-pura.

Nah, Kaitannya dengan Pandji?

Ini tentang menyampaikan kritik kepada penguasa. Caranya saja yang beda. Kalau Bahlul lewat kepura-puraan jadi orang gila, Pandji memilih panggung komedi dengan kata-kata kocak dan lucu.

Pelajaran yang bisa diambil? Menyampaikan kebenaran kadang tak bisa dilakukan secara vulgar dan terang-terangan. Lewat sindiran lucu, atau bahkan pura-pura kurang waras, pesannya bisa sampai dengan lebih aman.


Halaman:

Komentar