Dari Panggung Komedi ke Kisah Bahlul: Sindiran sebagai Senjata Kritik

- Selasa, 13 Januari 2026 | 08:20 WIB
Dari Panggung Komedi ke Kisah Bahlul: Sindiran sebagai Senjata Kritik

Pandji dan Bahlul: Kritik Tajam untuk Pikiran yang Waras

Oleh: Ustadz Dr. Hepi Andi Hapsori (Pusat Kajian Sirah)

Nama Pandji Pragiwaksono lagi ramai-ramainya. Pemicunya? Sebuah kritik pedas terhadap pemerintah yang ia lontarkan lewat panggung Stand Up Comedy bertajuk Mens Rea di Indonesia Arena, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Lalu, apa hubungannya dengan Bahlul? Bukan Bahlil, lho, tapi Bahlul.

Di tengah kita sekarang, sebutan "Bahlul" kerap dilekatkan pada sikap bodoh atau kelakuan konyol. Tapi tunggu dulu. Kalau kita telusuri asal-usulnya, justru ceritanya jadi lain. Figur Bahlul dalam sejarah justru muncul dari kecerdasan, kritik moral, dan sebuah strategi penyelamatan diri yang cerdik.

Asal-Usul Kata "Bahlul"

Secara bahasa, bahlul atau buhlul sebenarnya bukan kata hinaan biasa. Kamus Arab klasik justru menggambarkannya sebagai sosok yang terlihat bodoh, jenaka, atau nyeleneh, tapi di balik itu punya akal yang cerdas.

Ibnu Manzhur dalam Lisanul Arab misalnya, menulis begini:

"Seseorang yang cerdas dan berakal, namun menampakkan diri seperti orang bodoh."

Pendapat serupa datang dari al-Fairuzabadi dalam al-Qamus al-Muhith. Ia menegaskan, bahlul adalah orang pintar yang pura-pura gila demi tujuan tertentu.

Jadi, sejak awal, "Bahlul" itu justru simbol kecerdikan yang disamarkan, bukan kebodohan.

Bahlul dalam Catatan Sejarah: Fakta atau Sastra?

Dalam literatur, ada sosok bernama Bahlul ibn 'Amr yang disebut hidup di awal masa Kekhalifahan Abbasiyah. Ia sering digambarkan berkeliaran di jalanan Baghdad dengan tingkah aneh, bicara seperti orang tak waras, tapi ucapannya penuh hikmah dan sindiran tajam.

Tokoh ini banyak muncul dalam karya Ibnu al-Jauzi berjudul Akhbarul Hamqa wal Mughaffalin. Kitab itu sendiri adalah kumpulan kisah orang-orang yang tampak dungu. Menariknya, Ibnu al-Jauzi sadar betul bahwa sebagian dari mereka sebenarnya cerdas, hanya saja menyembunyikannya.

Bahlul ditempatkan dalam kategori ini. Dialog-dialognya dengan penguasa sering kali sangat menusuk.


Halaman:

Komentar