Ironi Langit Indonesia: Terbang ke Luar Negeri Kok Lebih Murah?
Oleh: Agus Abubakar Arsal
Ini terdengar seperti lelucon, tapi coba cek sendiri. Mau terbang dari Jakarta ke Aceh? Harga tiketnya bisa bikin mata melotot. Nah, sekarang bandingkan dengan tiket ke Kuala Lumpur. Seringkali lebih murah! Bahkan, ada trik aneh di mana terbang ke Malaysia dulu, baru transit ke Aceh, total ongkosnya masih lebih ringan ketimbang terbang langsung. Sungguh situasi yang paradoks, bukan? Kita seolah jadi tamu di langit sendiri, sementara turis asing malah diuntungkan oleh sistem kita yang ruwet.
Fenomena ini jelas bukan sekadar cerita. Ini adalah sinyal merah, sebuah paradoks yang nyata. Secara logika, rute langsung mestinya lebih hemat. Tapi kenyataannya berkata lain. Struktur biaya di dalam negeri sedemikian beratnya, sampai-sampai maskapai kesulitan menekan harga tiket. Alhasil, uang yang mestinya berputar di dalam negeri malah mengalir deras ke maskapai dan bandara negara tetangga. Miris.
Lantas, apa penyebab utamanya? Jawabannya rumit, tapi intinya ada pada tumpukan beban yang diatur kebijakan.
Pertama, soal PPN. Tiket domestik kita kena pajak pertambahan nilai, saat ini 11% dan rencananya mau naik lagi. Bandingkan dengan penerbangan internasional yang seringkali bebas dari beban ini. Langsung saja, harganya melambung di hadapan calon penumpang.
Belum lagi urusan perawatan pesawat. Sebagian besar suku cadangnya harus diimpor. Nah, impor onderdil ini kena PPN dan bea masuk lagi, yang ujung-ujungnya jadi beban operasional maskapai yang sangat tinggi. Biaya ini, tentu saja, dibebankan ke harga tiket.
Belum berhenti di situ. Masih ada pajak bahan bakar avtur dan beragam tarif bandara. Semuanya menumpuk jadi satu, membuat daftar biaya yang harus ditanggung penumpang semakin panjang dan berat.
Dampaknya pun jadi sistemik, melumpuhkan daya saing kita secara nasional. Ini bukan cuma urusan liburan yang jadi mahal.
Pariwisata lokal terpukul telak. Dengan anggaran terbatas, wisatawan domestik lebih memilih terbang ke Thailand atau Malaysia. Daerah-daerah cantik seperti Labuan Bajo atau Raja Ampat pun kehilangan potensi pendapatan. Sungguh disayangkan.
Artikel Terkait
Pemecatan Massal TPUA, Sinyal Klarifikasi Eggi Sudjana Usai Bertemu Jokowi
Kepala Sekolah Lampung Murka, Tempe dan Anggur Busuk Ditemukan di Menu Gizi Gratis
Keringat Pagi dan Aroma Kopi: Ritual Sempurna di Tengah Kesibukan Kota
Presiden Iran Tuding AS dan Israel Dalangi Kerusuhan, Korban Jiwa Tembus 540 Orang