Warga Depok dan Jakarta Ubah Sampah Jadi Tabungan dan Pupuk

- Senin, 12 Januari 2026 | 20:06 WIB
Warga Depok dan Jakarta Ubah Sampah Jadi Tabungan dan Pupuk

Di perumahan Bringin Town House, Depok, Kamis pagi itu ramai sekali. Bukan arisan atau kerja bakti, tapi warga berduyun-duyun keluar rumah membawa sampah. Ada yang digendong anak, ada yang ditenteng berdua sama pasangan. Isinya? Plastik kresek, kardus bekas, galon air mineral, sampai dupleks. Suasana jadi riuh rendah, hampir seperti pasar pagi, cuma barang dagangannya adalah limbah rumah tangga.

Rupanya, ini ritual bulanan mereka. Sampah anorganik yang sudah dipilah selama sebulan penuh itu ditimbang. Nantinya, beratnya dikonversi jadi saldo di rekening bank sampah. Setelah dicatat, barang-barang itu akan diangkut bank sampah induk untuk didaur ulang.

Yovi, salah satu warga, tampak antusias. Kantongnya penuh plastik. “Sering nggak terelakkan sih, apalagi suka jajan online. Banyak banget kemasan saset,” ujarnya.

Tapi Yovi nggak serta merta buang begitu saja. Di dapur, ia punya ritual khusus. Semua sampah dipilah: plastik kresek di satu tempat, saset di tempat lain, kertas duplek dan kertas putih juga dipisah. Bahkan, plastik berminyak bekas bungkus gorengan dicucinya dulu. “Biar nggak ada sisa makanan dan bisa didaur ulang,” jelasnya.

Kedisiplinan ini menular ke keluarganya. Ia kerap “mengomeli” suaminya yang pulang bawa kantong plastik dari warung, atau mengingatkan anak-anaknya untuk bawa tas belanja sendiri. Hasilnya? Sekitar 60% sampah rumahnya jadi kompos, 30% ditabung di bank sampah. Yang benar-benar terbuang ke TPA cuma 10% saja.

Gerakan ini ternyata bukan hal baru. Bank Sampah BTH sendiri sudah berdiri sejak 2011, dan bahkan menyabet gelar juara 1 tingkat Kota Depok tahun 2024. Awalnya sederhana, cuma gerakan sedekah sampah. Hasil penjualan sampah daur ulang dipakai buat biaya anak-anak mengaji.

Perlahan, gerakan makin matang. Tahun 2019, setelah dapat edukasi dari DLHK Depok, mereka bagi-bagi ember kecil ke warga buat tampung sampah organik. Kebiasaan memilah akhirnya jadi budaya. Bahkan, pada 2021 mereka resmi buka bank sampah anorganik sendiri dan mulai ‘menularkan’ ilmunya ke kompleks lain.

“Sampah organik kami kira-kira 500 kilo per bulan. Anorganiknya bisa 400-600 kg, kalau habis Lebaran bisa nyampe 700 kg. Total hampir 1 ton sampah yang berhasil kami pilah,” kata Sisti, Ketua Bank Sampah BTH.

Manfaatnya kembali ke warga. Mereka dapat bagi-bagi kompos dua kali setahun. Tabungan sampah anorganik juga bisa dicairkan jadi uang jelang Lebaran. Ada nasabah yang terkumpul sampai Rp 1 juta.

Tapi, bagi pengurus seperti Lora, ini bukan cuma urusan duit. “Kami bekerja untuk menggugah moral. Sampah kita ya tanggung jawab kita sendiri, bukan cuma tanggung jawab tukang sampah atau Pak RT,” tegasnya.

Lawan Sampah Makanan dan Aksi ‘Nekat’ si ‘RW Gila’

Di tempat lain, perang melawan sampah punya wajah berbeda. FoodCycle Indonesia, misalnya, fokus pada food waste. Organisasi nirlaba ini ‘mencegat’ makanan berlebih sebelum jadi limbah.

Kukuh Napaki dari FoodCycle bilang, awalnya mereka ambil sisa makanan dari pesta pernikahan. Tapi pandemi ubah segalanya. Mereka lalu beralih ke sektor industri dan ritel yang punya stok berlebih atau produk mendekati kedaluwarsa.

“Sekarang rata-rata 30-40 ton makanan kami distribusi per bulan,” jelas Kukuh. Makanan itu disalurkan ke panti asuhan, komunitas anak jalanan, dan kelompok rentan lainnya sekitar 30.000 penerima manfaat tiap bulan.

Prosesnya ketat. Mereka lakukan uji organoleptik, cek rasa, bau, dan tekstur, sebelum disalurkan. Kalau ada yang benar-benar busuk? Itu pun nggak langsung dibuang. Sejak 2023, mereka olah jadi pakan ternak atau kompos lewat biokonversi maggot.


Halaman:

Komentar