Empat Pilar Salat untuk Mikraj dalam Kehidupan, Menurut Pakar Ekonomi Syariah

- Senin, 12 Januari 2026 | 15:25 WIB
Empat Pilar Salat untuk Mikraj dalam Kehidupan, Menurut Pakar Ekonomi Syariah

Dalam sebuah ceramah Isra Miraj yang digelar belum lama ini, Profesor Muhammad Syafi'i Antonio mengungkap hal menarik. Menurutnya, salat punya empat dimensi krusial untuk pengembangan diri. Sayangnya, aspek ini sering banget terlewat oleh banyak umat Islam.

Ceramah itu sendiri tayang di kanal YouTube pribadinya pada Ahad, 11 Januari 2026 lalu.

Profesor yang dikenal sebagai pakar ekonomi syariah itu memulai dengan menekankan keistimewaan salat. "Salat itu unik," ujarnya.

"Ibadah ini diberikan langsung oleh Allah kepada Rasulullah, tanpa perantara Malaikat Jibril sekalipun. Ini kan perlakuan yang luar biasa, ya. Menunjukkan posisinya yang sangat sentral."

Lalu, apa saja empat fungsi salat yang dimaksud? Jika dipraktikkan dengan benar, keempatnya bisa mengantarkan seorang Muslim 'naik kelas' atau 'mikraj' dalam kehidupannya.

Pertama, salat berperan sebagai manajemen waktu yang efektif. Coba bayangkan. "Kalau disiplin tahajud, otomatis kita terbiasa bangun pagi. Disiplin dengan salat zuhur, meeting kerja harus kita selesaikan sebelum waktu salat tiba," jelas Syafi'i.

Intinya, hari dimulai dan diakhiri dengan 'Allahu Akbar'. Ritme hidup jadi tertata rapi.

Kedua, salat berfungsi sebagai kompas moral. Di sini, Prof. Syafi'i menekankan pentingnya meresapi makna, bukan cuma membaca teks. Menurutnya, orang yang benar-benar menghayati bacaan 'alhakumut takatsur' tentang bahaya loba harta, kecil kemungkinannya korupsi.

Begitu pula dengan yang meresapi 'fama linnar wal qintar', pasti akan berpikir ulang untuk berselingkuh.

Aspek ketiga adalah penguatan karakter dan konsistensi. Ia mengutip satu ayat yang memerintahkan menjaga salat dan terutama salat wustha, serta berdiri untuk Allah dengan khusyuk. "Pesan di baliknya jelas: ketenangan," ucapnya.

"Ketika masalah datang, hal pertama yang wajib dilakukan adalah tenang dulu. Baru setelah pikiran jernih, solusi bisa dicari."

Terakhir, salat adalah regulator emosi lewat latihan kesabaran. "Firman-Nya, 'wasta'inu bis shabri was shalah' jadikan sabar dan salat sebagai penolongmu," katanya.

Nah, sabar di sini bukan berarti pasif. Tapi lebih pada kemampuan untuk melawan rasa bosan dan ingin instan.

Ia memberi contoh nyata. "Seorang ustaz bisa hafal 30 juz Al-Quran karena sabar mengulang puluhan kali. Seorang ahli akuntansi lahir dari kesabaran mengutak-atik rumus. Sebaliknya, pejabat yang baru enam bulan menjabat sudah korupsi? Itu ciri-ciri orang yang tidak sabar," paparnya.

Menutup ceramahnya, Prof. Syafi'i Antonio kembali menegaskan. Keempat pilar itu pengatur waktu, penunjuk arah moral, penguat karakter, dan pengendali emosi adalah kunci untuk 'bermikraj'. Naik level dalam menjalani hidup yang lebih baik dan bermakna.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar