Demonstrasi di London Desak Rezim Iran Jatuh, Ancaman Militer Menggantung

- Senin, 12 Januari 2026 | 10:24 WIB
Demonstrasi di London Desak Rezim Iran Jatuh, Ancaman Militer Menggantung

Suasana di luar kediaman Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, pada Minggu (11/1) lalu, ramai oleh suara teriakan. Sekitar dua ribu orang berkumpul, memenuhi jalanan London dengan satu tuntutan: perubahan rezim di Iran.

Lautan bendera berkibar-kibar di udara dingin. Warna hijau, putih, dan merah bendera Iran berbaur dengan biru-putih Israel dan Union Jack Inggris. Di tengah kerumunan, simbol-simbol dukungan untuk Reza Pahlavi putra mendiang Shah terakhir yang hidup di pengasingan juga terlihat mencolok.

Poster bergambar wajahnya dibawa oleh sejumlah peserta. Bagi banyak yang hadir, Pahlavi dianggap sebagai figur penting, meski oposisi Iran sendiri masih terpecah belah.

Di balik aksi ini, Organisasi Stop the Hate memainkan peran kunci. Kelompok yang dikenal kerap mengoordinasikan demonstrasi pro-Israel itu menyediakan panggung dan mengatur jalannya acara. Dari atas panggung itulah, para pembicara menyampaikan pidato membara kepada massa yang menyimak.

Namun begitu, situasi di dalam Iran sendiri jauh dari kata tenang. Laporan dari sebuah kelompok HAM menyebutkan, lebih dari 500 orang tewas dalam kerusuhan yang melanda negara tersebut. Angka yang mengerikan.

Pemerintah Iran justru membalas dengan ancaman keras. Mereka menyatakan akan menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat jika Presiden Donald Trump benar-benar melaksanakan intervensi untuk mendukung para demonstran. Ancaman itu menggantung, memperkeruh ketegangan yang sudah memuncak.

Sayangnya, angka korban jiwa yang sesungguhnya masih gelap. Otoritas Iran belum mengeluarkan data resmi. Kantor berita Reuters pun mengaku tak bisa memverifikasi secara independen laporan dari kelompok HAM tadi. Jadi, kita hanya bisa menunggu dan melihat bagaimana fakta sebenarnya akan terungkap.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar