Lalu, ada faktor ekonomi. Perekonomian Amerika itu raksasa. Nilai pasarnya total semua barang dan jasa yang diproduksi masih yang tertinggi di dunia. Dolar AS tetap jadi mata uang cadangan utama. Artinya, gejolak di Wall Street bisa langsung terasa sampai ke pasar-pasar di Asia atau Eropa. Peran sentralnya dalam perdagangan internasional membuat setiap kebijakan ekonominya punya efek domino yang luas.
Di sisi lain, jangan lupakan teknologi. Negeri Paman Sam itu adalah kawah candradimasa inovasi. Dari Silicon Valley hingga pusat riset antariksa, AS terus menjadi pelopor dalam terobosan teknologi. Kemajuan ini bukan cuma soal gengsi; ia memperkuat daya saing ekonomi dan, tentu saja, kapabilitas militernya. Pengaruh budaya lewat platform teknologi raksasanya juga tak bisa dianggap remeh.
Jadi, ketika Trump atau pemimpin AS lainnya mengambil langkah berisiko seperti yang dikabarkan ke Venezuela, reaksi dunia yang tegang itu wajar. Pengaruh AS terbangun dari tiga pilar tadi: militer yang digdaya, ekonomi yang mendominasi, dan teknologi yang memimpin. Kombinasi itu yang membuat setiap langkah politik luar negeri Washington punya bobot luar biasa, mampu menggoyang stabilitas global dalam sekejap. Intinya, ketegangan ini lebih tentang posisi strategis Amerika Serikat itu sendiri, bukan semata tentang siapa yang duduk di kursi Oval Office.
Artikel Terkait
Babak 16 Besar Liga Champions 2025/2026 Terkunci, 16 Tim Siap Bertarung
Ketua Gema Bangsa Usul Ganti Parliamentary Threshold dengan Ambang Batas Fraksi
Kapolri Tegaskan Persatuan Nasional Kunci Hadapi Dampak Krisis Global
Dua Advokat Gugat MK, Minta Syarat Calon Presiden Dilarang Berkeluarga dengan Petahana