Gejalanya sendiri cukup khas. Demam tinggi yang muncul tiba-tiba, badan pegal-pegal, lemas yang luar biasa, sakit kepala, plus batuk yang bisa bertahan sampai hampir dua minggu.
Namun begitu, pemerintah tak melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk setiap pasien flu. Pendekatannya lewat sistem sentinel hanya sampling di sejumlah fasilitas kesehatan primer dan rujukan tertentu. Alasannya, penyakit ini tidak menimbulkan risiko kematian cepat seperti COVID-19.
“Kalau suatu penyakit tidak menimbulkan suatu wabah, maka yang dilakukan pemerintah adalah sampling dan kita sebutnya sentinel,” kata Lana.
Meski begitu, kewaspadaan tetap diperlukan. Kelompok rentan seperti anak kecil, orang lanjut usia, ibu hamil, dan mereka yang punya penyakit bawaan, risikonya lebih tinggi. Pencegahan dasar pun jadi kunci.
“Orang-orang dengan komorbid, termasuk lansia, anak, dan lain sebagainya, sebaiknya bisa dilakukan pengondisian yang relatif lebih baik dibandingkan orang dewasa,” pesannya.
Artinya, jaga kebersihan, istirahat yang cukup, dan pastikan asupan gizi seimbang. Terutama bagi mereka yang punya riwayat penyakit penyerta, pengelolaan kesehatannya harus lebih ketat lagi.
Artikel Terkait
Tanggul Jebol, Banjir Setengah Meter Rendam Puluhan Rumah di Baros
Iran di Ambang Jurang: Krisis Roti yang Berubah Jadi Pemberontakan
Indonesia Blokir Grok: Langkah Tegas Lawan Penyalahgunaan Deepfake
Gus Irfan Ingatkan Petugas Haji: Layani Jemaah, Bukan Cuma Nebeng Ibadah