KPK Tersangkakan Korupsi Haji, Berakhir di Yaqut Saja atau Masih Ada Lagi?
Sudah terlambat sekali. Bahkan bisa dibilang, kasusnya sudah terasa dingin. Di tengah berbagai spekulasi yang beredar luas soal kinerja KPK, barulah mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas ditetapkan sebagai tersangka untuk kasus kuota haji 2024.
Ceritanya begini. Arab Saudi memberikan kuota 20 ribu untuk jamaah haji Indonesia. Nah, yang jadi masalah, kuota itu justru "dimainkan" oleh oknum di dalam negeri sendiri. Akibatnya, lebih dari 8 ribu jamaah haji reguler kita yang jadi korban. Mereka tergilas, gagal berangkat.
Ini miris. Bukan cuma sumber daya alam seperti tambang atau hutan yang jadi sasaran korupsi. Kuota haji, sesuatu yang bernuansa ibadah dan kepercayaan, ternyata juga digerogoti. Dan pelakunya? Bukan orang yang awam agama. Justru sebaliknya, figur yang dianggap sangat paham seluk-beluk agama.
Yaqut bukan nama baru di panggung politik. Dia adik kandung Ketum PBNU, Yahya Cholil Staquf. Jejak karirnya panjang: pernah memimpin GP Anshor, duduk di DPRD dan DPR, menjadi Wakil Bupati Rembang, sebelum akhirnya memegang jabatan Menteri Agama.
Di sisi lain, Yaqut dikenal sebagai pendukung setia Presiden Jokowi. Ia sering tampil membela pemerintah, khususnya dalam isu-isu keagamaan yang sensitif. Postingannya soal muazin saat shalat Idul Adha, misalnya, sempat ramai diperbincangkan. Ia seperti perisai bagi Jokowi di area tersebut.
Dulu, saat kasus kuota haji ini mulai mencuat, Yaqut sempat dipanggil oleh Presiden. Tapi setelah itu? Senyap. Banyak yang meragukan KPK punya nyali untuk menyeretnya. Ternyata, mereka bisa.
Sekarang, pertanyaan besarnya menggelayut. Sampai ke mana aliran kasus ini akan berujung? Apakah hanya berhenti di Yaqut, atau masih ada nama-nama lain yang akan menyusul?
Penulis: Erizal
Artikel Terkait
Ledakan Petasan di Balon Udara Blitar Tewaskan Pemuda, Lukai Dua Anak
Perindo Sultra Kurban Lima Sapi untuk Warga Kurang Mampu di Kendari
Atta Halilintar Sebar 12 Ekor Sapi Kurban ke Sejumlah Daerah di Jawa Barat
Ria Ricis Buka Suara soal Operasi Hidung: Bukan demi Estetika, tapi karena Gangguan Pernapasan Akibat Tulang Bengkok