Jaringan internet di Iran mendadak mati. Itu terjadi Jumat lalu, tepatnya tanggal 9 Januari. Pemerintah dengan sengaja memutus akses, sebuah langkah drastis untuk membendung arus demonstrasi yang kian meluas ke berbagai penjuru. Bahkan sejak malam sebelumnya, sambungan telepon internasional ke negara itu sudah sulit sekali dijangkau.
Kekacauan ini langsung terasa di bandara. Setidaknya enam penerbangan menuju Dubai dan beberapa kota dalam negeri terpaksa dibatalkan. Di dunia digital, situasinya tak kalah suram. Media-media daring lokal hanya bisa bekerja dengan sangat terbatas, memperbarui informasi seadanya.
Semua ini berawal dari tekanan ekonomi yang mencekik. Nilai tukar rial Iran anjlok parah tahun lalu, tinggal separuhnya terhadap dolar AS. Belum lagi inflasi yang melonjak hingga menyentuh 40 persen di bulan Desember. Warga sudah muak.
Namun begitu, tuntutan demonstran kini berubah. Aksi yang awalnya soal roti dan harga, telah berkembang menjadi seruan langsung menentang otoritas. Menurut laporan, protes terjadi di seluruh provinsi. Korban jiwa pun berjatuhan, puluhan orang dilaporkan tewas.
Menyikapi hal ini, Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei tak tinggal diam. Ia menuding para pengunjuk rasa hanya menjadi alat kepentingan Amerika Serikat.
“Mereka yang merusak fasilitas publik ini adalah tentara bayaran asing,” tegasnya. Pemerintah, lanjut Khamenei, sama sekali tidak akan mentolerir tindakan semacam itu.
Khamenei Menyasar Trump, Situasi di Lapangan Mencekam
Khamenei secara khusus menyebut nama Presiden AS Donald Trump. Ia menilai kerusuhan ini ada kaitannya dengan pemimpin Amerika itu, dan memintanya agar mengurusi negerinya sendiri saja.
Artikel Terkait
Pandji Pragiwaksono Dilaporkan, Muhammadiyah dan NU Tegaskan Bukan Sikap Resmi
Ketika Humor Tak Mau Lagi Hanya Menghibur: Absurditas dan Batas Toleransi Publik
Ketika Koruptor Beragama Islam, Mengapa Agamanya yang Diserang?
Asia Timur dan Pasifik: Lapangan Kerja Tumbuh, Tapi Kualitasnya Tergerus