Kuota Haji dan Jubah Agama: Yaqut Resmi Tersangka, KPK Akhirnya Buka Suara

- Jumat, 09 Januari 2026 | 17:50 WIB
Kuota Haji dan Jubah Agama: Yaqut Resmi Tersangka, KPK Akhirnya Buka Suara

Diamnya KPK dan Desakan Publik

Sejak isu ini mencuat, KPK cenderung diam. Tidak ada penjelasan rutin, tidak ada timeline yang jelas. Bagi sebagian orang, ini bagian dari strategi penyidikan yang memang harus tertutup. Tapi bagi publik, keheningan yang terlalu lama terasa seperti pengabaian. Setiap hari tanpa kepastian adalah ujian kesabaran.

Kemarahan warganet bukan cuma soal Yaqut. Ini soal kepercayaan. Masihkah lembaga antirasuah ini punya nyali ketika berhadapan dengan tokoh besar yang punya jaringan kuat? Ataukah, langkah baru diambil setelah tekanan publik memuncak?

Penetapan tersangka ini mungkin memberi kelegaan. Tapi di sisi lain, ia juga membuka luka lama: kesan bahwa penegakan hukum kita masih reaktif, bukan proaktif.

Sunyinya Para Elite dan Beban Simbolis

Publik juga masih ingat pernyataan Yahya Cholil Staquf, Ketua Umum PBNU. Saat kasus masih sebatas dugaan, ia menyatakan keyakinannya bahwa adiknya tidak bersalah. Kini, setelah status tersangka resmi dikeluarkan, yang terdengar justru keheningan.

Secara hukum, ini urusan pribadi Yaqut. Tapi secara simbolis, sulit memisahkan figur tersebut dari institusi yang ia wakili. Diamnya para elite dalam situasi seperti ini sering dibaca sebagai bentuk pembiaran atau ketidakmampuan untuk mengambil jarak dari kekuasaan.

Apakah Hanya Sampai di Sini?

Kasus ini jelas belum selesai. Malah, mungkin baru permulaan. Masih banyak pertanyaan menunggu jawaban dari KPK: siapa saja yang terlibat, apakah ada aktor lain di belakang, dan apakah ini praktik tunggal atau bagian dari pola sistemik? Sejarah kasus haji sebelumnya menunjukkan, jarang yang berdiri sendiri.

Pertanyaan besarnya, dan ini lebih berat dari beban barang haji mana pun: akankah keberanian KPK berhenti pada satu nama? Atau justru ini jadi pintu untuk membongkar borok struktural dalam tata kelola haji kita?

Koruptor memang menjijikkan. Tapi koruptor yang bersembunyi di balik jubah agama? Itu bukan cuma menjijikkan. Itu merusak pondasi kepercayaan paling dasar. Dan memaksa kita semua bertanya dengan pilu: kalau urusan akhirat saja bisa dipermainkan, lantas apa lagi yang masih bisa kita anggap suci?

Penulis adalah dosen Universitas Bung Hatta, Padang, Sumatera Barat.


Halaman:

Komentar