Dia dikenal kerap membawa mahasiswanya kuliah lapangan ke Yogyakarta untuk menggambar candi dan relief. Dari situlah, muncul ide untuk membuat replika patung dari Candi Prambanan. Tapi yang terjadi di luar dugaan.
Yang menarik, jejak arca-arca ITB ini ternyata bersimpangan dengan koleksi di Rijksmuseum Amsterdam.
Konteks zamannya memang muram. Pada era kolonial, mengoleksi arca adalah tren di kalangan elite Belanda. Artefak berharga itu dengan mudah berubah status menjadi hiasan rumah pribadi. Di sinilah motif pemindahan arca ke ITB menjadi jelas.
Pertama, tentu untuk kepentingan pendidikan. Arca-arca itu jadi bahan ajar langsung bagi mahasiswa seni rupa. Tapi yang kedua lebih mendasar: penyelamatan.
Kini, pekerjaan rumah FSRD ITB masih panjang. Mereka terus menelusuri asal-usul koleksi yang sebenarnya sambil bersiap melakukan langkah konservasi. Tujuannya satu: agar saksi bisu sejarah ini tetap lestari, tetap bisa bercerita, dan menjadi guru bagi generasi mendatang.
Artikel Terkait
Laporan Ungkap Aliran Dana Terduga Teroris Lewat Binance, Pegawai Penyelidik Malah Diberhentikan
Tren Bukber Ramadan di Makassar Beralih ke Restoran dengan Konsep Estetik
Sidang Praperadilan Yaqut Ditunda, KPK Absen di Persidangan Perdana
Pantai Akkarena Makassar: Destinasi Favorit Warga dengan Pemandangan Senja Memikat