Di tengah hiruk-pikuk kampus ITB Bandung, tersimpan sebuah rahasia yang jarang diketahui publik: 25 arca Hindu-Buddha bersejarah. Benda-benda ini bukan sekadar pajangan. Mereka adalah penyelamat, bukti nyata dari sebuah upaya untuk merampas warisan budaya dari cengkeraman kolektor pribadi di masa kolonial Belanda.
Kini, arca-arca itu berdiam di Galeri Soemardja, FSRD ITB. Keberadaan mereka menceritakan kisah pilu tentang perpindahan tangan artefak, namun juga tentang jalan keluar yang cerdas melalui dunia pendidikan.
Menurut Dr. Kiki Rizky Soetisna dari CIVAS FSRD ITB, awal mula penelitian timnya berangkat dari teka-teki sederhana: bagaimana arca-arca ini bisa sampai di ITB? Asumsi pertama mengarah pada seorang profesor bernama Van Rommond, yang dikenal melalui laporan ekskavasi arkeologi.
"Kalau ditanyakan kenapa bisa ada di ITB, dapat dari mana, asumsi pertama kami waktu itu mengarah pada seorang profesor bernama Van Rommond, yang menulis artikel atau menulis laporan arkeologi eskavasi, salah satunya adalah di situs Selok Kelir, Gunung Penanggungan," kata Kiki.
Namun begitu, jejak yang ditemukan ternyata jauh lebih rumit. Jaringannya meluas, melibatkan banyak aktor dan lembaga.
"Kami asumsikan di awal, lembaga yang terlibat adalah ITB, dulu Technische Hoogeschool, TH, sekarang ITB, lalu Oudheidkundige Dienst, atau Dinas Purbakala, dan Bataviaasch Genootschap, atau Museum Nasional saat ini. Nah, ternyata kelindannya semakin luas," jelasnya.
Riset pun berlanjut. Dari tumpukan arsip, muncul nama A.J. Bernet Kempers. Dia adalah arkeolog yang memimpin Dinas Purbakala tahun 1951, sekaligus seorang pengajar di seni rupa ITB. Kempers mengampu mata kuliah sejarah seni Hindu-Buddha. Inilah titik terangnya.
Dia dikenal kerap membawa mahasiswanya kuliah lapangan ke Yogyakarta untuk menggambar candi dan relief. Dari situlah, muncul ide untuk membuat replika patung dari Candi Prambanan. Tapi yang terjadi di luar dugaan.
"Tapi alih-alih dipenuhi permintaan untuk melakukan replikasi itu, yang terjadi adalah sekolah malah diberikan 24 arca untuk dipelajari di Universitas Guru Gambar (ITB). Jadi diberikan 24, nah yang satu itu kami asumsikan adalah arca lokal," jelas Kiki.
Yang menarik, jejak arca-arca ITB ini ternyata bersimpangan dengan koleksi di Rijksmuseum Amsterdam.
“Kami menemukan korelasi bahwa arca-arca atau koleksi yang ada di sana (Rijksmuseum) berasal dari situs yang sama, yaitu di kawasan Prambanan,” ujarnya.
Konteks zamannya memang muram. Pada era kolonial, mengoleksi arca adalah tren di kalangan elite Belanda. Artefak berharga itu dengan mudah berubah status menjadi hiasan rumah pribadi. Di sinilah motif pemindahan arca ke ITB menjadi jelas.
Pertama, tentu untuk kepentingan pendidikan. Arca-arca itu jadi bahan ajar langsung bagi mahasiswa seni rupa. Tapi yang kedua lebih mendasar: penyelamatan.
“Jadi kami menemukan ada dua motif utama. Yang pertama adalah motif pendidikan dan pedagogi sebagai bagian dari kurikulum. Yang kedua adalah motif penyelamatan secara politik, termasuk penyelamatan dari kemungkinan dikuasai oleh private collector. Kami berasumsi bahwa menyimpannya di sekolah seni rupa sebagai bahan ajar akan membuat arca-arca tersebut lebih aman,” kata Kiki.
Kini, pekerjaan rumah FSRD ITB masih panjang. Mereka terus menelusuri asal-usul koleksi yang sebenarnya sambil bersiap melakukan langkah konservasi. Tujuannya satu: agar saksi bisu sejarah ini tetap lestari, tetap bisa bercerita, dan menjadi guru bagi generasi mendatang.
Artikel Terkait
Polisi Bekuk Komplotan Pembegal Truk di Maros, Target Empat Lokasi
Timnas Putri Indonesia Umumkan 25 Pemain untuk Garuda Champion Series 2026, Diperkuat Diaspora
Prabowo Beri Penghormatan Terakhir untuk Ryamizard, Menteri Fadli Zon Ungkap Kedekatan Keduanya Sejak Taruna
Adhisty Zara Resmi Menikah dengan Musisi Tsaqib, Umumkan Kehamilan Anak Pertama