Namun, capaian di lapangan sulit dibantah. Wilayah seperti Gurun Kubuqi di Mongolia Dalam, atau Babusha di Gansu, yang dulu gersang, kini mulai menghijau. Proyek ini adalah bukti bahwa rekayasa ekologi dalam skala masif memang mungkin dilakukan.
Hutan Rusia: Jiwa Sebuah Bangsa yang Tegang
Lalu, bagaimana dengan Rusia? Negeri ini punya hubungan yang kompleks dan mendalam dengan hutannya. Pernah ada yang bilang, "Rusia memiliki lebih banyak pohon daripada bintang di galaksi kita." Itu bukan omong kosong. Di Bima Sakti diperkirakan ada 200 miliar bintang. Sementara pohon di hutan Rusia jumlahnya sekitar 642 miliar.
Hutan yang membentang dari Arktik hingga Pasifik ini bukan sekadar pemandangan. Ia adalah karakter, sumber daya, sekaligus medan pertempuran. Ia membentuk identitas nasional simbol beruang yang perkasa. Tapi sikap pemerintah terhadapnya selalu berubah-ubah. Bergantung pada zamannya, hutan bisa jadi sasaran eksploitasi untuk membangun armada, atau justru dilindungi.
Secara politis, hutan adalah ruang perlawanan. Tempat bersembunyi bagi partisan selama Perang Dunia Kedua, yang berhasil menyabotase pasukan Jerman dan menyelamatkan ribuan orang Yahudi. Hingga konflik di Ukraina sekarang, pemahaman medan berhutan tetap jadi kunci.
Tapi hutan juga rapuh. Kebakaran hebat pada 2021 melalap area seluas dua kali Irlandia. Di sisi lain, ia juga tangguh. Lihat saja di zona eksklusi Chernobyl, di mana rewilding terjadi secara alami, mengundang lynx dan beruang kembali.
Seorang aktivis pernah berujar dengan nada sinis, "Tahukah Anda berapa banyak Putin yang pernah ada di zaman kita? Masuklah ke hutan, bersembunyilah, jangan menjulurkan kepala, dan tunggu."
Pohon ek bisa hidup lebih dari seribu tahun. Mereka menyaksikan dinasti dan perang datang pergi. Seperti dalam novel The Overstory karya Richard Powers, sebuah hutan pada akhirnya akan ditentukan oleh orang-orang yang melintasinya.
Amazon yang Sekarat: Dari Paru-Paru Dunia Menjadi Sumber Emisi
Kini, ancaman terbesar justru datang dari perubahan iklim. Hutan hujan Amazon sedang memasuki fase baru yang mengerikan, yang oleh para ilmuwan disebut kondisi "hipertropis". Suhu ekstrem dan kekeringan panjang mendorong ekosistem ini melampaui batas toleransinya keadaan yang diyakini belum pernah terjadi sejak 10 juta tahun lalu.
Studi di jurnal Nature pada Desember 2025 mengonfirmasi hal ini. Kekeringan di bawah suhu yang lebih panas meningkatkan tekanan pada vegetasi secara drastis. Data selama 30 tahun menunjukkan, kematian pohon melonjak hingga 55% selama periode kekeringan panas. Spesies pohon perintis, yang penting untuk regenerasi hutan, adalah yang paling rentan.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah pergeseran fungsi Amazon secara fundamental. Selama ini kita mengenalnya sebagai "Paru-Paru Dunia", penyerap karbon raksasa. Sekitar tahun 2020, segalanya berubah. Bagian tenggara Amazon kini justru melepaskan sekitar 1 miliar ton CO2 bersih setiap tahunnya. Ia telah berubah dari penyerap karbon menjadi sumber emisi.
Penyebabnya adalah gabungan mematikan: deforestasi tak terkendali, suhu yang terus naik, dan kekeringan berkepanjangan. Kemampuan alami hutan untuk menyembuhkan diri sendiri sudah terlampaui.
Epilog: Kutukan yang Berulang?
Global antropogenik itulah istilah untuk dampak skala global yang disebabkan ulah manusia. Pemanasan, polusi, perubahan ekosistem akibat industrialisasi dan keserakahan kita. Inilah akar dari semua perubahan iklim modern.
Di Indonesia, tekanan pada hutan belum juga reda. Kita disebut sebagai juara deforestasi. Kalimantan dan Sumatera menjadi saksi bisu. Papua mungkin akan menyusul. Dalam dua dekade, kita sudah kehilangan 11 juta hektare hutan primer.
Sepertinya etos Gilgamesh akan berulang. Sang raja yang menebang pohon cedar suci dan membunuh penjaganya. Kutukan dewa itu kembali bercerita. Apakah kita hanya akan pasrah, lalu menunggu datangnya "pembeli" hutan berikutnya untuk menyelamatkan apa yang tersisa?
Atau, kita akan belajar dari kisah kuno itu, bahwa kehidupan abadi memang tak akan pernah kita temukan. Tapi melindungi kehidupan yang masih ada, itu adalah pilihan yang sepenuhnya ada di tangan kita.
Artikel Terkait
Kepala Sekolah Kupang: Inilah Keadilan Sosial yang Nyata
Garansi Allah untuk Nol Keracunan Makanan Sekolah, BGN Dikritik
Dasco dan Tito Pimpin Rapat Koordinasi Pemulihan Aceh di Tengah Reruntuhan
Tawa Anak-anak Kembali Bergema di Huntara Aceh Tamiang